Oleh Indri Hapsari, Ph.D., Psikolog.
Definisi
Penelitian terbaru yang digagas oleh Catherine Lord, PhD, seorang profesor di bidang Human Development and Psychology dari University of California Los Angeles, Amerika Serikat, memberikan perspektif mendalam mengenai apa yang kita pahami selama ini mengenai gangguan spektrum autisme. Autisme adalah gangguan perkembangan syaraf yang berdampak pada kemampuan seseorang dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan dunia luar. Karakteristik utama dari autisme adalah adanya kesulitan signifikan dalam berkomunikasi dan berinteraksi, perilaku repetitif, sensitivitas yang tinggi terhadap stimulasi sensori, serta adanya variasi dalam tingkat inteligensi. Dari banyak studi diketahui bahwa individu dengan autisme juga memiliki gangguan lain seperti gangguan perhatian dan hiperaktivitas, kecemasan, depresi, dan epilepsi.
Prevalensi
Saat ini, sebanyak 1% dari populasi di dunia menunjukkan ciri-ciri autisme. Lord et al. (2020) menyatakan bahwa angka prevalensi autisme di negara-negara maju mungkin lebih tinggi daripada yang dilaporkan. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa autisme lebih banyak terdapat pada laki-laki dibandingkan perempuan, dengan estimasi rasio sebanyak 4:1 (Global Burden of Disease Study, 2010). Namun, penghitungan estimasi prevalensi autisme ini tergantung dari metode pengambilan data, termasuk di dalamnya: definisi yang dipakai, siapa partisipannya, dan apakah data diperoleh dari asesmen langsung atau dari kasus yang sudah tercatat sebelumnya. Beberapa orang mempercayai bahwa prevalensi autisme meningkat namun hal ini belum didukung oleh bukti empiris.
Faktor resiko
Studi-studi terdahulu menunjukkan bahwa ayah dan ibu yang berusia lebih tua (saat kehamilan) serta adanya trauma saat kelahiran – biasanya disebabkan oleh kekurangan oksigen atau hipoksia – dapat menjadi faktor resiko untuk autisme. Beberapa studi menemukan bahwa obesitas saat kehamilan, kehamilan yang sering dan dalam rentang waktu yang dekat, diagnosis diabetes melitus saat kehamilan, serta penggunaan obat anti epilepsi, dapat meningkatkan resiko gangguan autisme. Namun, studi-studi ini menggarisbawahi bahwa faktor-faktor tersebut tidak menunjukkan kausalitas atau penyebab dari autisme, tapi merupakan faktor yang berkontribusi terhadap kemungkinan terjadinya autisme pada bayi. Faktor resiko lainnya yang banyak diteliti adalah faktor genetik. Studi yang melibatkan partisipan individu kembar dan keluarga (saudara sekandung yang memiliki adik atau kakak dengan autisme) menunjukkan secara konsisten bahwa autisme itu diturunkan atau heritable, dengan estimasi 40% sampai 90%. Artinya jika pada satu keluarga terdapat individu dengan autisme, anggota keluarga lain memiliki kemungkinan sebanyak 40% sampai 90% untuk juga memiliki autisme.
Diagnosis
Diagnosis gangguan spektrum autisme ditegakkan melalui wawancara tentang perkembangan anak, biasanya diperoleh dari orang tua, dan hasil observasi perilaku (bagaimana anak dengan autisme berinteraksi dengan orangtuanya atau dengan orang lain). Manifestasi utama dari autisme (seperti kesulitan interaksi sosial dan komunikasi, perilaku repetitif, dan hipersensitifitas sensorik) biasanya dapat diidentifikasi dengan akurat oleh ahli yang sudah terlatih.
Satu penelitian di Inggris menunjukkan bahwa anak perempuan dengan manifestasi autisme yang sama dengan anak laki-laki, memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mendapatkan diagnosis. Temuan ini mungkin dapat dihubungkan dengan penerapan kriteria diagnosis bagi anak laki-laki dan anak perempuan. Anak laki-laki mungkin lebih banyak menunjukkan kesulitan perilaku yang dapat terobservasi dibandingkan anak perempuan. Dengan demikian mereka lebih ‘terlihat’ menunjukkan manifestasi autisme dibandingkan anak perempuan. Temuan ini juga menunjukkan pentingnya dilakukan revisi terhadap alat diagnostik untuk dapat mengakomodasi perilaku-perilaku autisme yang ada pada anak perempuan.
Saat ini alat diagnosis yang direkomendasikan oleh ahli, yang memiliki sensitivity, specificity dan reliability yang baik, adalah Autism Diagnostic Interview-Revised (ADI-R) serta Autism Diagnostic Observation Schedule-2nd edition (ADOS-2). Namun, studi juga menunjukkan adanya tantangan dalam menggunakan kedua alat diagnostik ini. Tantangan pertama adalah alat ini cukup mahal, dan yang kedua dibutuhkan pelatihan yang mendalam agar dapat menggunakan alat ini secara kompeten. Studi-studi ini mengindikasikan dibutuhkannya alat diagnostik yang lebih terjangkau dan mudah digunakan.
Diagnosis autisme merupakan diagnosis yang dianggap stabil – artinya diagnosis ini tidak berubah sepanjang hidup seorang individu. Temuan dari penelitian terbaru menunjukkan bahwa autisme dapat menunjukkan perkembangan yang heterogen dalam kehidupan seseorang. Artinya, sebagian individu yang didiagnosis autisme saat usia kanak-kanak tidak menunjukkan kesulitan perilaku yang bermakna (atau mengganggu) saat mereka tumbuh dewasa. Namun masih sangat dini untuk menentukan apakah hal ini disebabkan oleh intervensi dini yang berhasil atau merupakan subtipe dari autisme itu sendiri.
Intervensi
Tipe intervensi untuk individu dengan autisme tergantung kepada usia perkembangannya:
- Untuk anak-anak usia dini, intervensi (yang biasanya melibatkan orangtua dan/atau terapis) difokuskan untuk meningkatkan kemampuan adaptif anak sehari-hari. Intervensi ini juga berfungsi untuk meningkatkan pemahaman dan penerimaan orangtua terhadap autisme.
- Untuk anak-anak usia sekolah, intervensi difokuskan pada peningkatan keterampilan sosial, dan pengelolaan masalah-masalah emosi dan perilaku yang muncul.
- Untuk usia dewasa, intervensi biasanya ditujukan untuk memberikan kesempatan bagi individu agar dapat hidup mandiri, memperoleh pekerjaaan dan mempertahankan pekerjaan tersebut, dan mengelola masalah kesehatan mental yang mungkin dialami.
Kualitas hidup individu dengan autisme
Fokus intervensi terhadap autisme telah berpindah dari yang mulanya bertujuan untuk mengurangi gejala-gejala autisme menuju penyediaan kesempatan yang lebih luas bagi individu dengan autisme untuk memiliki hidup berkualitas. Sebuah studi mengindikasikan bahwa kualitas hidup berhubungan dengan kemampuan bahasa di usia dini yang lebih baik, tingkat inteligensi dan skor perilaku adaptif yang lebih tinggi, manifestasi gejala autisme yang ringan, dan masalah perilaku yang lebih sedikit (Farley et al., 2009). Walaupun penelitian mengenai autisme telah menunjukkan kemajuan yang signifikan terutama di negara-negara maju, “dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk mengetahui kebutuhan jangka panjang dari individu dengan autisme, intervensi yang dapat mendukung kemandirian, serta kualitas hidup yang lebih baik disepanjang kehidupan mereka” (Lord et al., 2020, p. 1)
Disarikan dari:
Lord, C., Brugha, T. S., Charman, T., Cusack, J., Dumas, G., Frazier, T., Jones, E., Jones, R. M., Pickles, A., State, M. W., Taylor, J. L., & Veenstra-VanderWeele, J. (2020). Autism spectrum disorder. Nature reviews. Disease primers, 6(1), 5. https://doi.org/10.1038/s41572-019-0138-4
