Mengurangi Rigiditas

Q:

Saya paham bahwa rigid adalah salah satu karakteristik anak SA. Tapi, anak saya sepertinya terlalu rigid atau perfeksionis. Dia ingin semua yang ia lakukan sangat rapi dan precise. Menulis harus super rapi dengan ketinggian huruf yang sama. Kalau ada yang meleset sedikit akan dia hapus lalu perbaiki sampai bentuk hurufnya sempurna di matanya. Sering kali dia kesal karena hurufnya tak juga sempurna, dia hapus berulang kali sampai kertasnya berlubang dan tangisnya pecah. Bisakah kekakuan itu dikurangi?

A:

Kalau dilihat dari sisi baiknya, sifat rigid itu mendorong anak melakukan sesuatu dengan teliti dan cermat. Dia mampu menggunting kertas dengan baik, mewarnai gambar tanpa keluar dari garis, dan melipat kertas atau tisu dengan sempurna. Karena itu, tak mengherankan jika anak yang sangat rigid akan mampu melakukan berbagai tugas yang memerlukan kemampuan motorik halus yang baik.

Di sisi lain, sifat ini membuat anak jadi keras terhadap diri sendiri, sulit menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan standarnya. Saat standarnya belum tercapai, ia akan terus mencoba hingga akhirnya frustrasi, lalu menangis atau marah.

Melunakkan kekakuan itu sangat mungkin dilakukan. Misalnya, ketika ia merasa bahwa tulisannya tidak bagus dan berniat menghapusnya, katakan, ”Tulisannya sudah cukup baik dan bisa terbaca. Tak usah dihapus, ya.“ Di saat-saat awal, kalau dia bersikeras ingin menghapus, Anda bisa melonggarkan larangan tapi dengan batasan. Contohnya, “Oke, boleh menghapus dan memperbaiki tapi hanya satu kali, ya.”

Setiap kali anak berusaha memperbaiki tulisan atau hasil kerjanya berulang kali, ingatkan dia, “Tidak apa-apa, kalau hasilnya masih dirasa belum bagus. Nanti kita coba lagi, ya. Yang dilihat oleh Ibu dan Ayah bukan hasil akhir, kok, Nak. Yang penting usahamu.” Dengan latihan berulang, hasilnya pasti akan lebih baik.

Anda bisa menunjukkan kemajuan yang sudah ia lakukan dengan cara memperlihatkan bukti visual. Misalnya, sejak saat awal Anda mengajak anak mengurangi rigiditas, dokumentasikan selalu hasil kerjanya dalam bentuk video atau foto. Setelah berkali-kali berlatih, tunjukkan perbedaan hasil kerja anak yang dulu penuh dengan jejak-jejak perbaikan dan yang sekarang sudah jauh lebih rapi.

Di sisi lain, Anda juga perlu menjadi contoh untuk menunjukkan bahwa melakukan kesalahan adalah hal yang biasa. Misalnya, tak sengaja menumpahkan minum. Hati-hati, jangan sampai Anda justru menjadi contoh orang tua yang perfeksionis.

Foto: Pexels

mandiga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts