Toilet Training? Bisa, Kok!

Updated: May 6, 2020


Karena punya hambatan dalam hal komunikasi dan cenderung terlambat merasakan sensasi untuk berkemih dan BAB, anak SA akan kesulitan untuk bilang ketika mereka ingin ke kamar mandi. Tapi, Anda akan bisa mengenali gelagatnya. Misalnya, mengimpitkan kedua kaki lalu bergoyang-goyang seolah menahan. Kalau kebetulan Anda melihat gelagat ini, sih, Anda bisa langsung mengajak dia ke toilet. Masalahnya, kalau Anda sedang tidak berada di satu ruangan dengan dia, bagaimana? Inilah pentingnya toilet training bagi anak SA.



Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan untuk menyiapkan anak SA melalui masa-masa training, yaitu:


1. Kesadaran anak

Umumnya anak mulai mendapatkan toilet training sebelum mereka berusia 2 tahun. Tapi, lain halnya dengan anak SA. Anda tidak bisa berpatokan pada usia. Cermati tingkah laku anak, ketika Anda mengajaknya ke kamar mandi. Misalnya, apakah dia ikut-ikutan ketika Anda cuci tangan di wastafel. Lihat juga sikapnya ketika celananya basah, saat dia mengompol. Kalau dia bereaksi, kemungkinan besar ia sudah siap untuk toilet training. Begitu juga kalau dia tertarik dengan kegiatan di toilet, termasuk cuci tangan dan flushing.


2. Toilet yang seru

Hias toilet anak dengan gambar atau warna-warna yang menarik. Kalau anak suka binatang, tempelkan banyak gambar binatang kesenangannya. Jika ia tertarik pada bunga, carilah wallpaper bergambar bunga berbagai warna. Dengan begitu, paling tidak dia betah dulu di dalam toilet.


Jangan lupa perhatikan dudukan WC. Untuk anak yang masih kecil, sebaiknya tambahkan dudukan yang kecil dan empuk agar dia merasa nyaman. Sediakan pula bangku pendek agar kakinya bisa menjejak pada bangku ketika dia duduk. Bangku ini juga berguna untuk membantunya menggapai keran air ketika cuci tangan di wastafel.


3. Jadwal ke toilet

Sebelum menyusun jadwal, perhatikan dulu kapan anak biasanya berkemih dan BAB. Biasanya, sih, waktunya tidak jauh berbeda dari hari ke hari. Buatlah jadwal tersebut semenarik mungkin dan letakkan di tempat yang mudah dilihat anak. Misalnya, di luar kamar mandi. Sementara itu, buatlah juga urutan kegiatan yang perlu dilakukan anak di kamar mandi. Mulai dari menurunkan celana, duduk di toilet, sampai cuci tangan dan mengeringkan tangan. Kalau anak belum bisa membaca, Anda perlu kreatif mencari gambar yang sesuai.


4. Kesabaran dan konsistensi

Menghadapi anak SA pasti perlu kesabaran yang jauh lebih tinggi. Dalam urusan toilet training juga demikian. Merasa tidak tega karena memaksa anak ke kamar mandi, wajar, kok. Tapi, agar nantinya dia bisa mandiri, Anda memang perlu sedikit tega dan konsisten melatih. Kuncinya adalah kesabaran penuh. Meski susah setengah mati, tahan keinginan untuk ngomel atau marah.


Evaluasi lagi jadwal atau faktor pendukung lain. Siapa tahu bukan si kecil yang salah, tapi ada hal lain yang jadi penyebab. Misalnya, anak trauma karena pernah terjeblos di WC atau ia sulit berkemih karena Anda terlalu banyak bicara dan memberi instruksi.


5. Reward kecil untuk setiap progress

Bentuk kemajuan itu bisa bermacam-macam. Misalnya, tidak lagi marah ketika diajak ke kamar mandi, bisa melepas dan memakai celana sendiri, atau tidak mainan air lagi. Sekecil apa pun keberhasilan itu, beri reward kepada anak. Tak perlu yang aneh-aneh. Cukup beri pelukan, pujian dengan mengacungkan jempol, atau makanan kesukaannya (tapi bukan yang bikin dia alergi, ya).



Foto: Pixabay

Recent Posts

See All