Tip Bagi Pengajar & Pelatih Baru

Karena dunia makin terbuka terhadap anak SA, makin banyak pula sekolah formal yang menerima mereka. Begitu juga dengan sejumlah penyedia kegiatan untuk anak, seperti klub basket, tempat kursus melukis dan menari, klub seni bela diri, dan klub renang. Namun, tak semua pengajar ataupun pelatih pernah bertemu dengan anak berkebutuhan khusus, sehingga belum terlalu memahami cara mengajar atau melatih mereka.



Jika Anda baru akan mendampingi anak SA untuk pertama kalinya, tip ini akan bisa membantu Anda:


1. Jangan banyak bertanya

Interaksi dengan anak SA perlu pendekatan sedikit berbeda. Biasanya, ketika pertama kali bertemu seorang anak, orang dewasa akan banyak bertanya. Namanya siapa, umur berapa, sekolah di mana, kelas berapa, dan sebagainya. Kalau Anda melakukan hal tersebut terhadap anak SA, bisa jadi dia tak akan menjawab satu pun pertanyaan dan malah akan menjauh.


Akan lebih baik jika Anda perkenalkan diri terlebih dahulu dan ceritakan singkat tentang apa yang Anda lakukan, misalnya mengajar piano kelas dasar. Gunakan nada yang ramah dan hangat. Setelah itu, jelaskan tentang kegiatan yang akan Anda lakukan bersama dia. Misalnya, jika Anda pelatih basket, Anda akan mengajaknya bermain lempar dan tangkap bola terlebih dahulu selama beberapa menit, lalu beralih ke latihan lain. Pastikan anak menikmati kegiatan tersebut dan tidak melakukannya karena terpaksa.


2. Amati dengan saksama

Sebagian besar anak SA tergolong non-verbal. Sehingga, ketika mereka merasa tidak nyaman dengan situasi tertentu, mereka belum tentu bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Namun, mereka akan menunjukkan protes dan ketidaknyamanan dengan suara tertentu, perilaku, atau gerak tubuh tertentu. Ini adalah cara komunikasi mereka.


Anda yang baru pertama kali bekerja sama dengan anak SA tentu belum terbiasa ‘menerjemahkan’ perilaku mereka. Karena itu, Anda perlu mengamati perubahan sikap atau perilaku mereka. Jika tidak yakin akan apa yang perlu dilakukan, mintalah saran dari orang tua atau pelatih lain yang lebih berpengalaman.


3. Fleksibel

Agar anak SA mau mengikuti instruksi Anda dengan senang hati, Anda perlu bersikap lebih fleksibel. Misalnya, Anda adalah guru gambar. Di klub Anda ada anak SA yang baru datang, tapi ia tidak mau duduk, jika tidak ditemani orang tuanya. Jangan memaksa anak, karena mungkin saja ia merasa khawatir berlebihan atau menerima terlalu banyak sensori sehingga tidak nyaman. Ajak orang tua untuk ikut duduk di antara anak-anak lain, ikut menggambar atau mewarnai, selama beberapa menit, sampai anak tersebut merasa relaks. Setelah itu, barulah orang tuanya diminta menunggu di luar.


Jika mengajar agama, Anda tak bisa lagi hanya mengandalkan kata-kata untuk memberi pemahaman tentang konsep. Keluarlah dari zona nyaman dan lebih banyak menggunakan alat bantu visual, disertai musik yang mendukung.


4. Libatkan orang tua

Anda yang belum pernah ‘bergaul’ dengan anak SA mungkin belum memahami bahwa terkadang mereka melakukan sesuatu yang tidak biasa, misalnya tiba-tiba lari atau menangis dengan keras. Jangan panik, tapi hindari menarik tangannya atau berbicara dengan suara keras. Bisa-bisa tantrumnya semakin parah. 


Jalan paling aman adalah bertanya kepada orang tua tentang penanganan terbaik. Kalau orang tuanya berada di sekitar, minta bantuan mereka untuk menenangkan anak dan pelajari cara mereka. Akan lebih baik jika sebelum mulai pelatihan atau pengajaran, Anda banyak bertanya tentang kebiasaan anak, termasuk perilakunya, serta apa yang disukai dan tidak disukai. Dengan begitu, Anda bisa mengukur ekspektasi dan antisipasi.



Foto: Pexels

Recent Posts

See All