Saat Sylvester Stallone Tak Bisa Jadi Ayah

Updated: May 8, 2020


Tak banyak yang tahu bahwa aktor laga ternama Sylvester Stallone memiliki putra yang didiagnosis spektrum autisme. Diagnosis terhadap Seargeoh membuat hati keluarga Stallone hancur, meski tak pernah kehilangan harapan. 


“Tuhan dan alam menciptakan dia sebagai pribadi yang berbeda. Kita harus bisa menerima Seargeoh sebagaimana adanya, dan memahami bahwa dunianya lebih tenang dan tertutup,” kata Sylvester kepada anak-anaknya yang lain.


Sylvester mulai menyadari bahwa Seargeoh berbeda, ketika mereka berpose bersama untuk majalah People. Melihat perilaku putranya yang senang sekali mengulang-ulang kata yang sama, Sylvester langsung tahu bahwa Seargeoh memiliki masalah. Istri Sylvester, Sasha Czack, mengamati, meski sudah berusia 3 tahun, Seargeoh masih belum fasih berbicara. Kata-kata yang dikuasainya sangat terbatas. Juga, sebelum bisa berjalan, Seargeoh mulai pandai menggambar, seolah untuk mengungkapkan keinginan karena belum bisa bicara. Usai melewati berbagai pemeriksaan dan serangkaian prosedur medis, diagnosis autisme pun dijatuhkan. 


Banyak yang memberi saran agar Seargeoh dirawat di institusi khusus, tapi keluarga Stallone memilih untuk menyelimuti Seargeoh dengan limpahan kasih sayang dan perhatian dari masing-masing anggota keluarga. Mereka yakin, itulah yang lebih dibutuhkan oleh Seargeoh. Bermacam pengobatan dan terapi yang dinilai paling sesuai disediakan untuknya. Melihat berbagai kemajuan usai menjalani terapi, Sylvester kemudian memasukkan Seargeoh ke sekolah khusus. 


Sylvester mengungkapkan bahwa peran seorang ayah tak bisa ia jalani saat bersama Seargeoh. “Tidak ada hubungan yang hangat antara seorang ayah dan anak lelakinya. Saya harus berperan sebagai teman bermain baginya. Menghadapi anak seperti ini, kita memang harus menyingkirkan ego kita jauh-jauh,” ungkap Sylvester. 


Seargeoh tak bisa mengejar karier di Hollywood seperti keempat saudaranya yang lain, meski ketika baru lahir ia sempat muncul dalam film Rocky II yang dibintangi oleh ayahnya. The silent genius – begitu sebutan dari orang tuanya – banyak menghabiskan waktu di rumah dengan menggambar dan menulis surat. 


Ia pun tak sering muncul di media, karena sang ayah memang tak ingin mengekspos kehidupan pribadi anaknya kepada publik. Sylvester sendiri tidak banyak melempar komentar soal Seargeoh. Bukan karena malu, tapi karena ia ingin privasi yang dibutuhkan oleh anaknya tetap terjaga. Beruntung, para paparazzi pun bersimpati, sehingga mereka menghargai privasi yang diinginkan oleh Sylvester dan tidak mengejar Seargeoh dengan bidikan kamera. 


Lahir tahun 1979, kini Seargeoh tumbuh sebagai pria dewasa yang tampan, yang mencuri hati banyak perempuan. Ia sudah menjalani kesehariannya dengan mandiri, meski belum mampu mencari nafkah sendiri dan harus menggantungkan hidup dari kekayaan keluarga.


Seiring dengan perkembangan Seargeoh, kepedulian Sylvester terhadap autisme pun meningkat. Hal itu ia tunjukkan lewat beragam aksi untuk meningkatkan awareness publik akan autisme, termasuk membuat iklan layanan masyarakat. Dia juga mengalirkan banyak dana untuk berbagai riset tentang autisme, yang dikelola oleh National Society for Children and Adults with Autism.



Foto: Wikipedia

Recent Posts

See All