My Life My Dream


Buku ini bisa dibilang serupa dengan otobiografi, tapi dikemas sebagai novel sehingga mampu menjangkau lebih banyak kalangan. Fairuz Nurul Izzah, nama penulisnya, menerima diagnosis Asperger saat berusia 12 tahun. Meski tak pernah merasa berbeda dari orang-orang seusianya, seperti anak SA lain, Fai juga kerap mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan. Dan, semua pengalaman itu ia tuangkan dalam bentuk tulisan. Kumpulan tulisan Inilah yang kemudian menjadi inspirasi terbesarnya dalam menulis buku.


My Life My Dream sendiri akan mengubah cara pandang pembaca terhadap individu dengan Asperger, karena Anda seperti diajak masuk ke dunia mereka yang sedikit berbeda, termasuk dalam bermimpi.


Siapa bilang individu SA tak boleh bermimpi? Sang penulis membuktikan bahwa individu SA pun bisa dan boleh bermimpi. Lebih jauh lagi, ia bisa mewujudkan mimpi itu, meski jalannya tidak mudah. Dengan bimbingan mentor dan kerja keras, cita-cita Fai untuk menjadi penulis dan menerbitkan buku bisa menjadi kenyataan. Usai menerbitkan buku pertama yang berjudul The Lessons of Friendship, ia meluncurkan novel ini sebagai buku kedua.


Menariknya, buku ini tidak dikerjakan sebagai proyek solo, melainkan hasil kolaborasi dengan Ruben Rotty dan Adinda Mandita Praharsacitta. Kedua individu SA ini punya talenta luar biasa di bidang seni lukis. Ruben berperan untuk menggambar sampul buku, sementara Dita bertugas membuat lembar mewarnai di bagian dalam halaman buku. Kolaborasi yang manis ini dijalin untuk menunjukkan bahwa individu SA bisa menghasilkan karya yang bagus.

Recent Posts

See All