Musik = Peredam Emosi yang Ampuh

Updated: May 6, 2020



Sebagian besar indera anak SA memang super sensitif, tak terkecuali indera pendengaran. Yang unik, suara yang mengganggu bagi kita belum tentu dirasa mengganggu bagi mereka, dan sebaliknya. Misalnya, kita bisa terganggu oleh suara panci jatuh, tapi mereka sama sekali tidak terganggu. Atau, kita merasa biasa saja ketika mendengar bunyi klakson, bunyi orang bersin, atau bunyi orang batuk, tapi bagi mereka suara tersebut bisa sangat menyebalkan.


Suara sangat keras, seperti pintu yang terbanting karena tiupan angin, bisa saja tidak mengganggu. Jangankan kaget lalu menangis, mereka bahkan seolah tidak mendengar. Itulah kenapa banyak orang tua yang membawa anaknya ke dokter THT untuk memeriksakan pendengaran dan dokter THT tidak menemukan masalah apa pun. Tapi, kenapa mereka seolah tidak mendengar?


Yang terjadi sebenarnya adalah mereka menutup indera pendengaran dari suara yang menyakitkan telinga. Di samping itu, kondisi tersebut berkaitan erat dengan kesulitan anak SA menggunakan lebih dari satu indera pada waktu yang sama. Sehingga, ketika mereka sedang serius melihat-lihat gambar atau main game, indera pendengaran mereka seolah tertutup rapat. Jadi, sekeras apa pun suara yang terdengar di dunia luar, mereka tidak akan mendengarnya.


Temple Grandin, dosen yang menekuni dunia animal science dan pegiat advokasi untuk autisme, juga sangat sensitif terhadap suara. Saat masih kecil, datang ke pesta ulang tahun terasa bagai siksaan bagi Temple. Kerumunan banyak orang yang menghasilkan kebisingan luar biasa bisa mendorong Temple bersikap agresif, misalnya melempar benda yang ada di dekatnya.


Di sisi lain, suara dalam bentuk musik bisa sangat bermanfaat bagi anak SA karena dirasa menenangkan. Tak sedikit anak SA yang memilih mendengarkan musik ketika suasana hatinya sedang galau. Jadi, kalau anak Anda sedang sangat aktif, misalnya berkali-kali lari mengelilingi ruangan atau melompat-lompat ke sana kemari, ajaklah dia untuk duduk dan mendengarkan musik. Mereka umumnya suka pada musik-musik dengan genre tertentu dan kemudian menjadi tenang.


Anak SA juga senang sekali menirukan kata-kata berirama dari penggalan iklan di televisi atau nyanyian tertentu secara berulang-ulang. Bagi mereka, menirukan nyanyian jauh lebih mudah dan bermakna dibandingkan belajar bicara. Jenis lagu atau iklan yang mereka tirukan pun bisa berbeda-beda sesuai dengan emosi mereka saat itu. Sehingga, bisa dibilang, anak SA mengekspresikan emosi melalui frase atau nyanyian tertentu sebagai pengganti dari bahasa yang belum dikuasainya.


Menariknya, mereka juga suka menciptakan bunyi-bunyian untuk diri sendiri. Anak SA yang bisa bicara kerap berbicara sendiri, menirukan suara, kata-kata, atau kalimat yang akan membuat mereka senang. Mengulang suara tertentu pun dapat membuat mereka merasa tenang.


Selain itu, mereka gemar mendengarkan suara berulang yang datang dari luar dirinya. Misalnya, suara dari TV, radio, atau suara orang lain. Begitu juga yang dirasakan Temple. Dia kerap kali menanyakan pertanyaan yang sama dengan harapan bisa mendengar jawaban yang sama berulang kali. Jadi, kalau anak Anda menanyakan hal yang sama berkali-kali, bisa jadi dia ingin merasakan sensasi yang sama seperti Temple.



Foto: Pixabay

Recent Posts

See All