Minat Anak Terbatas? Tak Masalah!

Updated: May 6, 2020




Sudah dari sananya anak SA punya minat yang terbatas, yang itu-itu saja, yang begitu-begitu saja. Senangnya nyanyi, tapi tiap hari nyanyi lagu yang itu saja. Atau, maunya main puzzle dengan gambar yang itu melulu. Tapi, Anda tetap bisa, kok, mengajarkan banyak hal lain yang mereka butuhkan agar bisa tumbuh jadi pribadi yang mandiri. Triknya: manfaatkan minatnya itu dengan cerdas.


Mandiga sempat punya murid yang suka sekali dengan tokoh-tokoh Disney, terutama Micky Mouse. Ke mana-mana dia pergi dengan membawa boneka Micky. Nah, anak ini terbilang sangat sensitif. Kalau lembar kerjanya berantakan, misalnya, dan gurunya kemudian menegur dan meminta dia untuk memperbaiki, dia tersinggung berat. Namun, sang guru tidak kehabisan akal. Ia manfaatkan boneka itu dan seperti bermain puppet show. Jadi, dengan menggerak-gerakkan boneka, gurunya berbicara dengan suara kartun, “Lembar kerjanya dibetulin, dong. Tulisannya nggak usah besar-besar, kecil aja, ya.” Karena merasa 'sahabatnya' yang berbicara kepada dia, murid itu mau, deh, memperbaiki lembar kerjanya.


Ada pula anak yang senang sekali mobil. Ketika akan menjelaskan sesuatu, misalnya urutan yang harus dilakukan ketika mandi, Anda bisa membuat kartu yang dihias dengan gambar mobil. Atau, kalau ingin mengajarkan warna, gunakan mobil mainan atau gambar mobil warna-warni.


Percaya atau tidak, ada juga anak SA yang tertarik pada vacuum cleaner. Saking sukanya, ia belajar membaca dengan bantuan manual book produk penyedot debu! Dan… cara tersebut berhasil. Kenapa? Soalnya, anak tersebut tertarik pada segala sesuatu yang ada hubungannya dengan vacuum cleaner. Sementara itu, buku-buku pelajaran yang biasa dipakai, kan, tidak menyebut-nyebut soal vacuum cleaner. Jadi, dia kurang tertarik untuk belajar dengan media buku pelajaran yang umum.


Reward juga sebaiknya disesuaikan dengan minat. Contohnya, kalau berhasil belajar tanpa kehilangan fokus, dia boleh menggambar di whiteboard atau nyanyi lagu yang dia ulang terus setiap hari. Jika senang ke supermarket, hadiahnya bisa berupa brosur supermarket. Dia boleh lihat-lihat dan tunjuk salah satu barang, lalu kita belikan barang yang dia inginkan. Lain kasus, untuk anak yang hobi mengumpulkan bon (seperti kita mengoleksi perangko), bon belanja itu juga bisa dijadikan sebagai reward. Jadi, di awal belajar, kita bilang, “Niko, nanti setelah selesai semua tugas, Ibu kasih bon belanja yang panjang.” Biasanya, sih, cara seperti ini ampuh.


Dalam urusan pemberian konsekuensi kalau dia melanggar aturan, juga berlaku hal yang sama. Di Mandiga ada anak yang hobinya bersih-bersih. Dia juga senang mengisi air putih ke gelas para guru. Jadi, kalau minta tolong dia mengambilkan minum, dia akan dengan senang hati membantu. Untuk dia, daripada diberi kosekuensi yang belum tentu bermanfaat, ia bisa diberi tugas membersihkan taman, misalnya. Dengan begitu, energinya diarahkan pada tugas-tugas yang bisa diterapkan juga di rumah.


Sebetulnya, akan lebih baik jika minat tersebut dikembangkan sehingga menjadi kemampuan yang menonjol. Sekarang sudah banyak anak SA yang menjadi atlet renang, pemain musik, dan pelukis yang harga lukisannya sudah mencapai puluhan juta. Kalau rajin dan konsisten mengarahkan minat anak, Anda bisa mendaftarkan anak ke berbagai lomba, sekaligus nantinya untuk mencari nafkah. Sebab, belum tentu ketika dewasa nanti mereka bisa berkarya di perusahaan, kan?


So, tunggu apa lagi? Yuk, arahkan minat anak dengan lebih baik.



Foto: Pixabay

Recent Posts

See All