Jurnal: Penelitian Terhadap Relasi Remaja SA

Updated: May 6, 2020



Masa remaja bagi individu SA bisa menjadi masa-masa yang sangat sulit. Penyebabnya, remaja mendapatkan tuntutan yang lebih tinggi untuk memahami ekspektasi sosial. Selain itu, kompleksitas hubungan antar-manusia juga meningkat. Sebenarnya, remaja SA ingin menjalin hubungan lebih dekat dengan orang-orang di sekitarnya. Sayangnya, keinginan ini tidak mudah terpenuhi karena hambatan mereka dalam berkomunikasi.


Psikolog Erik Erikson yang terkenal dengan teori perkembangan psikososial dan konsep krisis identitas, menemukan adanya hubungan antara perkembangan identitas dan kesehatan mental. Ia menjelaskan, identitas adalah cara seseorang dalam memandang dirinya sendiri. Sementara itu, psikolog perkembangan James Marcia menyatakan, ketika seseorang menentukan identitas dirinya, ia akan melalui dua tahapan proses, yaitu tahap eksplorasi dan tahap komitmen.


Tahap eksplorasi merupakan tahap ketika remaja mencari identitas diri, sementara tahap komitmen adalah tahap ketika ia harus mempertahankan identitas yang telah dia tentukan. Bagi remaja SA, tahapan ini mungkin akan sulit untuk mereka lalui. Karena, mereka cenderung memandang diri mereka sendiri kurang kompeten secara fisik ataupun sosial. Kesadaran bahwa dirinya berbeda, ditambah lagi dengan stigma dari orang lain, dapat memengaruhi perkembangan konsep diri dan kepercayaan diri mereka.


Remaja SA tidak saja perlu membentuk identitas diri, tetapi juga akan mempertanyakan identitas sosial mereka dan di mana mereka bisa cocok di lingkungan yang didominasi oleh remaja non autistik. Saat berusaha menemukan tempat yang cocok bagi diri mereka, remaja SA perlu melakukan akulturasi, yaitu proses perubahan budaya dan psikologis ketika dua budaya bertemu. Peneliti mengungkapkan, proses yang sama akan terjadi ketika budaya remaja SA bertemu dengan budaya remaja non autistik.


Akulturasi sendiri terbagi menjadi 4 tipe, yaitu:

1. Marginalized: terjadi ketika remaja tidak merasa tergabung dengan salah satu kelompok

2. Bicultural: ketika remaja merasa tergabung dalam kedua kelompok budaya

3. Assimilated: ketika remaja tidak terhubung dengan grupnya sendiri namun terhubung dengan kelompok budaya mayoritas

4. Separated: ketika remaja hanya tergabung dengan kelompok minoritas


Sejumlah penelitian tentang bagaimana remaja SA melihat kondisi diri menggambarkan temuan-temuan berbeda. Penelitian kualitatif menunjukkan bahwa remaja SA bangga akan ciri-ciri autistiknya dan menerima dirinya sebagai bagian dari kelompok autistik. Namun, ada pula penelitian yang menunjukkan bahwa remaja SA menjauhkan diri dari budaya autistik dan mempunyai pandangan negatif terhadap dirinya. Di sisi lain ditemukan pula bukti bahwa kurangnya identifikasi terhadap budaya autistik berkaitan dengan tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi, yang dimediasi oleh meningkatnya collective self-esteem.


Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi akulturasi, tidak hanya meneliti tentang bagaimana remaja SA berhubungan dengan budaya autistik, tetapi juga bagaimana hubungan mereka dengan budaya non-autistik. Di samping itu, dari penelitian ini ingin diketahui kondisi emosional pada masing-masing tipe akulturasi.


Ada 3 alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:

1. Twenty Statement Task (TST) untuk melihat bagaimana partisipan memandang diri mereka sendiri

2. Autism Identity Scale (AIS) untuk mengukur apakah partisipan lebih terikat pada budaya autistik atau non-autistik

3. Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) untuk menilai perilaku dan kondisi emosi dari partisipan


Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok remaja SA memiliki kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan kelompok remaja pada umumnya. Sementara untuk aspek identitas personal, remaja SA lebih banyak mendeskripsikan diri secara konkret dan mendetail dibandingkan kalimat abstrak. Karakteristik yang ditulis secara umum tergolong baik, lebih banyak kalimat positif dibandingkan yang negatif.


Melalui studi ini juga ditemukan bahwa para remaja SA merasa lebih terhubung dengan budaya non-autistik dibandingkan budaya autistik. Hasil perhitungan statistik selanjutnya tidak menemukan adanya korelasi antara identitas personal dengan kesehatan mental. Skor kesehatan mental juga tidak berbeda di antara keempat tipe akulturasi. Di samping itu, tidak ditemukan juga perbedaan konsep diri (positif dan negatif) di antara keempat tipe akulturasi.


Sumber:

Journal of Autism and Developmental Disorders (2019) 49:2901–2912

https://doi.org/10.1007/s10803-019-04016-x

Tulisan asli: ‘Who Am I?’: An Exploratory Study of the Relationships Between Identity, Acculturation and Mental Health in Autistic Adolescents

Lily Cresswell1 • Eilidh Cage1

Diterbitkan secara online: 19 April 2019 © The Author(s) 2019