Jurnal: Pelatihan PECS Pada Anak SA

Updated: May 6, 2020


Masalah komunikasi dan hambatan sosial merupakan karakteristik SA yang terus bertahan sampai usia dewasa. Terapi yang sering kali diberikan kepada anak SA biasanya berfokus untuk meningkatkan kemampuan bicara. Padahal, cara tersebut tidak berarti meningkatkan kemampuan komunikasi. Akhir-akhir ini, terapi lebih difokuskan pada strategi yang mendukung komunikasi fungsional yang spontan. Karena itu, kemudian muncullah sistem Alternative Augmentative Communication (AAC) yang menggunakan gambar dan simbol untuk komunikasi non verbal.


Berbagai bentuk AAC sudah dikembangkan, termasuk PECS (Picture Exchange Communication System) yang awalnya dikembangkan oleh Bondy dan Frost pada 1994. PECS menerapkan prinsip-prinsip tingkah laku dasar, terutama reinforcement untuk mengajarkan komunikasi fungsional dalam konteks sosial. PECS terdiri dari 6 tahapan, dimulai dari melatih anak untuk menukar gambar dengan barang atau kegiatan yang diinginkan, hingga menjawab pertanyaan dan memberi komentar.


Meski metode PECS sangat populer, belum banyak penelitian yang mengukur efektivitas PECS dalam meningkatkan komunikasi fungsional. Penelitian-penelitian sebelumnya, yang membandingkan antara PECS dan sistem komunikasi lain, menunjukkan hasil yang beragam. Penelitian eksperimental ini dirancang untuk melihat pengaruh PECS (tahap 1-4) terhadap tingkah laku sosial komunikatif pada anak SA.


Partisipan dalam penelitian ini adalah 18 anak dengan karakteristik:


  1. Telah mendapat diagnosis gangguan SA

  2. Berusia 18 hingga 60 bulan

  3. Tidak mampu melakukan komunikasi fungsional

  4. Belum pernah mendapatkan pengajaran PECS atau metode lain

  5. Tidak mengalami gangguan motorik dan sensorik berat, tidak memiliki gangguan komorbiditas medis


Partisipan dibagi ke dalam kelompok eksperimental (memperoleh pelatihan PECS) dan kelompok kontrol (mendapat pelatihan Conventional Language Therapy). Sebelum penelitian dimulai, anak-anak diberi 4 skala asesmen. Selanjutnya, intervensi dilakukan selama 6 bulan. Setelah intervensi berakhir, 4 skala asesmen tersebut kembali diberikan.


Ada 4 alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:


  1. Griffiths’ Mental Developmental Scale, mengukur bahasa reseptif dan ekspresif, kemampuan hidup sehari-hari, level kemandirian, dan interaksi dengan anak lain

  2. Autism Diagnostic Observation Scale, domain komunikasi dan interaksi sosial timbal balik yang digunakan untuk mengukur perubahan

  3. Vineland Adaptive Behavior Scale: Second Edition, bertujuan mengumpulkan laporan orang tua mengenai cara anak berkomunikasi

  4. Unstructured Free-Play with Examiner, bertujuan menilai kontak mata, joint attention, communication prompt. Di sebuah ruang bermain peneliti mencoba mengajak anak untuk bermain selama 15 menit. Buku PECS disediakan untuk digunakan saat pre-test dan post-test bagi kedua kelompok.


PECS dan CLT diterapkan dalam program rehabilitasi yang menggunakan metodologi TEACCH. Semua anak mendapatkan pengajaran terstruktur selama 12 jam per minggu. Mereka mempelajari sejumlah keterampilan, seperti memperhatikan, diskriminasi dasar, bahasa dan komunikasi spontan, sosialisasi, bermain, serta kontrol motorik dan pre-akademik.


Berdasarkan pengukuran sebelum eksperimen, tidak ditemukan adanya perbedaan di antara kedua kelompok. Artinya, kedua kelompok setara. Namun, setelah pelatihan selesai, kelompok PECS menunjukkan hasil yang lebih baik dalam keterampilan bermain kooperatif, joint attention, meminta sesuatu, dan inisiatif. Perbedaan tersebut juga terlihat pada sesi bermain bebas. Namun, dalam hal kontak mata, tidak terlihat perbedaan antara kelompok PECS dan CLT.


Sumber:

International Journal of Language and Communication Disorder, September-October 2012, Vol 47

Short Report

Social–communicative effects of the Picture Exchange Communication System (PECS) in Autism Spectrum Disorders

Anna Lerna, Dalila Esposito, Massimiliano Conson, Luigi Russo and Angelo Massagli