Jurnal: Kepuasan Pernikahan Pada Pasangan Dengan Anak SA

Updated: May 6, 2020



Kedekatan antara orang tua dan anak SA sering kali terus berlanjut sampai anak memasuki usia remaja bahkan dewasa. Hal ini terjadi karena gejala autisme cenderung menetap, misalnya kesulitan komunikasi dan menjalin relasi sosial, kekakuan, masalah tingkah laku, dan masalah emosional, seperti kecemasan dan depresi. Dengan demikian, remaja dan dewasa SA masih membutuhkan bantuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari.


Sebuah studi menunjukkan bahwa kesehatan mental ibu dari anak SA terbilang fluktuatif, tergantung pada beratnya masalah tingkah laku pada


remaja dan dewasa SA. Namun, studi tentang bagaimana masalah mereka berdampak pada kepuasan pernikahan masih sangat terbatas.


Sudah cukup banyak penelitian yang membuktikan bahwa kepuasan pernikahan pasangan terkait erat dengan kehadiran anak, termasuk masa transisi menjadi orang tua baru, ketika anak meninggalkan rumah (empty nest), tuntutan yang tinggi sebagai orang tua, masalah tingkah laku anak, serta kualitas hubungan anak dan orang tua. Sebaliknya, kualitas hubungan pasangan suami-istri juga menentukan kualitas interaksi mereka dengan anak-anak sampai mereka menjadi dewasa.


Masih sedikit riset yang fokus meneliti pernikahan pasangan suami-istri yang memiliki anak SA. Beberapa studi menunjukkan bahwa orang tua dari anak SA usia kanak-kanak memiliki kepuasan pernikahan yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak memiliki anak berkebutuhan khusus. Saat anak masih kecil, kemungkinan terjadinya perceraian di antara kedua kondisi itu sama besar. Namun, ketika anak memasuki usia remaja atau dewasa, kemungkinan perceraian menjadi lebih besar pada pasangan dengan anak SA. Penelitian lain menunjukkan bahwa tingkat beratnya gangguan anak berkorelasi negatif dengan kepuasan pernikahan orang tua.


Penelitian ini menggunakan metode longitudinal selama 7 tahun. Tujuannya untuk mengetahui apakah kedekatan hubungan orang tua - anak dan gejala-gejala anak berfluktuasi sepanjang waktu dan berkaitan dengan perubahan pada kepuasan pernikahan. Lebih jauh lagi, penelitian ini ingin memahami pengaruh karakteristik anak dan pengaruh empty nest terhadap tingkat kepuasan pernikahan orang tua.


Penelitian longitudinal ini berlangsung dalam kurun waktu antara 1998 - 2008 dan melibatkan 406 keluarga dengan anak SA berusia minimal 10 tahun di awal penelitian. Seiring berjalannya waktu, yang tersisa adalah 131 keluarga. Sejumlah keluarga tidak disertakan dalam penelitian karena berbagai alasan.


Pengukuran yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:


  1. Informasi demografis anak dan keluarga

  2. Kesehatan anak

  3. Gejala-gejala autisme pada anak, diukur menggunakan ADI-R (Autism Diagnostic Interview-Revised) dan wawancara tambahan pada orang tua

  4. Masalah-masalah perilaku anak, diukur secara berkala sepanjang penelitian dengan menggunakan sub-skala Masalah Tingkah laku pada Scales of Independent Behaviors-Revised (SIB-R)

  5. Lingkungan tempat tinggal anak

  6. Kedekatan hubungan antara anak dan orang tua, diketahui melalui alat ukur Positive Affect Index)

  7. Kepuasan pernikahan, diukur melalui Marital Satisfaction Questionnaire for Older Persons (MSQFOP)


Kedekatan hubungan antara ibu dan anak, serta penghasilan keluarga, dapat meramalkan tingkat kepuasan pernikahan. Semakin dekat hubungan yang terjalin dan semakin tinggi penghasilan keluarga, maka akan meningkat pula kepuasan pernikahan orang tua. Di samping itu, perubahan kepuasan pernikahan pada ibu juga dipengaruhi oleh fluktuasi masalah tingkah laku pada remaja dan dewasa SA. Ketika masalah tingkah laku anak SA berkurang, kepuasan pernikahan pada ibu menunjukkan peningkatan.


Tampaknya masalah tingkah laku pada remaja dan dewasa SA menyebabkan berkurangnya kapasitas psikologis yang dimiliki ibu untuk menjalin hubungan positif dengan suami. Selain itu, sangat mungkin terjadi perbedaan pendapat dengan pasangan ketika mencoba mengatasi masalah tingkah laku pada anak.


Secara keseluruhan, kepuasan pernikahan pada ibu mulai menurun setelah usia pernikahan menginjak tahun ketujuh. Hal ini sesuai dengan kondisi pernikahan pada populasi umum. Namun, ternyata keluarnya anak dari rumah untuk tinggal di institusi tidak berkaitan dengan kepuasan pernikahan orang tua. Berdasarkan studi-studi terdahulu, dapat disimpulkan bahwa orang tua tetap terlibat dalam penanganan remaja dan dewasa SA, walaupun mereka sudah tidak lagi tinggal serumah.


Sumber:

Journal of Family Psychology. 2012 October ; 26(5): 688–697. doi:10.1037/a0029354.

Marital Satisfaction and Life Circumstances of Grown Children With Autism Across 7 Years


Sigan L. Hartley, Waisman Center and Department of Human Development and Family Studies, University of Wisconsin-Madison


Erin T. Barker, Waisman Center, University of Wisconsin-Madison


Jason K. Baker, Waisman Center, University of Wisconsin-Madison


Marsha Mailick Seltzer, Waisman Center and Department of Social Work, University of Wisconsin-Madison


Jan S. Greenberg

Waisman Center and Department of Social Work, University of Wisconsin-Madison