Hai, Ini Julia, Teman Baru di Sesame Street



Siapa yang tidak kenal Sesame Street? Tayangan edukasi ini dibintangi sejumlah karakter boneka yang menyampaikan pesan dan nilai hidup dengan cara seru. Tak mengherankan jika serial yang lahir tahun 1969 ini disukai oleh banyak keluarga, termasuk di Indonesia. Meski tokohnya berupa boneka, ceritanya terasa dekat dengan kehidupan nyata anak-anak pada umumnya, bukan khayalan seperti cerita dongeng.


Topik serialnya bisa dibilang sangat bervariasi. Selain topik umum seperti pelajaran membaca dan berhitung, anak juga bisa belajar tentang kematian, pernikahan, dan bencana kelaparan. Ada pula cerita tentang anak yang lama tak bertemu orang tuanya karena orang tuanya bertugas di bidang militer, atau yang orang tuanya dipenjara karena melakukan kejahatan.


Tema autisme tak lepas pula dari pengamatan tim kreatif yang berada di balik kesuksesan Sesame Street, hingga kemudian lahirlah tokoh Julia, anak perempuan SA berusia 4 tahun. Boneka Julia digambarkan berwarna kuning cerah, bermata hijau, berambut merah, dan sangat aktif. Ke mana-mana ia selalu membawa boneka kelinci kesayangannya yang bernama Fluffster. Yang menarik, Julia punya dua sahabat dekat, yaitu Elmo dan Abby Cadabby.


Sebenarnya sejak 2015 karakter Julia sudah diperkenalkan kepada publik lewat buku produksi Sesame Street yang berjudul We're Amazing 1, 2, 3! A Story About Friendship and Autism. E-book gratis karya Leslie Kimmelman itu berupa buku bergambar yang sangat bagus. Hanya saja, ia baru ‘diajak’ bermain dalam serial televisi ketika dunia memperingati Hari Autisme Internasional 2020.


Pada kemunculannya yang perdana, ceritanya Alan baru saja memberi perlengkapan menggambar untuk Julia, Abby, dan Elmo. Super senang dengan pemberian itu, ketiganya langsung saja sibuk menggambar. Di tengah-tengah aktivitas tersebut datanglah Big Bird. Merasa belum mengenal Julia, ia pun menyapa. Namun, Julia diam saja, sibuk dengan gambarnya. Big Bird bingung. Ditanya apa pun, Julia tetap tak merespons, seolah tenggelam dalam dunia gambar.


Alan kemudian menjelaskan kepada Big Bird bahwa Julia adalah anak SA dan dia senang kalau orang lain mengetahui tentang kondisinya. Penjelasan soal autisme dari Alan sangat sederhana, sekaligus sangat menarik, sehingga mudah dimengerti oleh anak-anak yang menonton. Dia menjelaskan, “Bagi Julia, autisme berarti dia mungkin tidak akan langsung merespons segera setelah kamu tanya. Dia juga melakukan hal-hal yang sedikit berbeda dari anak pada umumnya, yang mungkin membuat orang lain bingung. Misalnya, ia mengepakkan kedua tangannya ketika sangat senang. Bisa jadi apa yang Julia lakukan justru membuat kamu ingin mencobanya.”


Apa yang dijelaskan oleh Alan dialami sendiri oleh Abby dan Elmo. Ketika mereka kemudian bermain serupa permainan bentengan, saking senangnya Julia bermain sambil melompat-lompat. Temannya jadi ikut-ikutan. Bahkan, mereka lalu menciptakan nama permainan baru. Tadinya permainan itu disebut ‘tag’, sekarang berubah jadi ‘boing-tag’.


Lalu, bagaimana reaksi publik soal kehadiran Julia? Luar biasa antusias. Mereka menyebutkan bahwa Julia mengajarkan penonton - anak-anak, remaja, maupun orang tua - untuk merangkul orang lain yang kondisinya berbeda. Selain itu, tontonan ini bisa memudarkan stigma tentang kondisi SA. Sementara itu, bagi anak-anak SA, menonton Julia jadi seperti bercermin. Mereka bisa melihat bagaimana Julia terganggu ketika sirine mobil polisi meraung-raung, bagaimana temannya bingung ketika tak mendapat respons, dan bagaimana hasil karya Julia yang luar biasa bagus.


Perlu dicatat juga bahwa karakter Julia tidak dibuat asal-asalan, melainkan dibangun dari diskusi yang mendalam dengan para pegiat, peneliti, dan sejumlah individu SA. Selain itu, di balik produksi cerita tentang Julia juga berdiri Autistic Self Advocacy Network, satu-satunya organisasi nasional yang dibentuk oleh dan diperuntukkan bagi individu SA di Amerika Serikat.


Foto: sesameworkshop.org

Recent Posts

See All