Deteksi 7 Ciri Anak SA

Updated: May 6, 2020

Idealnya, makin cepat kondisi SA dideteksi, makin cepat pula anak SA mendapat terapi agar bisa mandiri. Namun, setiap anak SA menunjukkan ciri yang berbeda pada usia yang berbeda pula. Sehingga, bisa jadi orang tua tidak terlalu ngeh.



Meski begitu, ada sejumlah karakteristik yang umum ditemukan pada anak SA, yang bisa Anda kenali dengan cepat. Tujuh di antaranya adalah:


1. Seru dengan dunia sendiri

Inilah kenapa mereka tidak menoleh ketika dipanggil. Kalau sedang sibuk melipat kertas origami atau main games, ia tidak peduli pada apa yang terjadi di luar sana. Walaupun dipanggil beberapa kali, dia tetap tidak akan menoleh. Tak heran jika banyak yang menyangka bahwa anaknya mengalami gangguan pendengaran. Tapi, jika setelah diperhatikan hal ini terjadi lebih dari tiga kali, Anda perlu waspada.


2. Terlambat bicara

Jika anak-anak lain sudah ribut berceloteh lucu ketika masuk usia 1 tahun, meski dengan lafal tidak jelas, anak SA umumnya belum mulai bicara sepatah pun. Anda perlu mulai berkonsultasi dengan profesional yang memahami anak-anak berkebutuhan khusus, saat anak belum bisa mengucapkan kata-kata dan kalimat sederhana ketika berusia 2 tahun. Prinsipnya, semakin cepat, semakin baik.


3. Tidak paham bahasa isyarat

Perbedaan anak SA dan anak yang terlambat bicara adalah kesulitan memahami bahasa isyarat. Kebanyakan anak SA juga tidak menunjuk kalau menginginkan sesuatu, melainkan akan menarik tangan orang lain.


4. Nada bicara datar

Saat sudah mulai bisa bicara, nada bicaranya umumnya datar. Setiap anak punya nada bicara yang sangat khas. Mereka tidak mengenal yang namanya intonasi. Jadi, ketika sedang bertanya pun nadanya seperti orang cerita saja. Tapi, intonasi ini bisa dipelajari, kok, ketika terapi wicara, sehingga tidak terkesan kaku.


5. Superaktif atau hipoaktif

Sebagian anak SA tampak hiperaktif, berlari ke sana kemari, melompat-lompat, tidak bisa menyelesaikan tugas, dan bahkan menghilang di tempat ramai. Sebaliknya, ada juga yang tampil sangat tenang, banyak melamun, dan sulit diajak belajar hal-hal yang tidak disukainya.


6. Tidak suka tempat ramai

Anak SA terbilang anti akan tempat ramai, apalagi tempat yang baru. Sebab, tempat yang ramai orang biasanya sangat bising. Masalah sensorik yang dimiliki membuat anak SA menerima rangsangan secara lebih kuat pada semua indera. Jadi, tempat yang terlalu ramai bisa menimbulkan rasa overwhelmed secara sensori. Responsnya: dia bisa menarik diri atau mengamuk.


7. Minat terbatas

Jika sudah jatuh cinta pada satu kegiatan, misalnya mengumpulkan bon belanja, menjejerkan benda-benda atau menonton film tertentu, ia nyaris tidak mau beralih pada kegiatan lain. Setiap hari yang diminta dari orang lain atau orang tuanya hanya bon, lalu dikumpulkan, hingga menggunung. Diajak mengobrol sulit, diajak main di alam tidak mau, hanya sibuk memegangi bon (yang bagi kita tidak ada nilainya).


Ada pula anak yang senang menjejerkan benda. Misalnya, bukannya memainkan kepingan lego, dia malah menjejerkannya menjadi satu barisan yang panjang. Atau, ketika Anda menyusun air mineral di nampan, dia akan mengeluarkannya dari nampan, lalu menyusun satu barisan panjang air mineral.


Bagi anak SA, satu benda yang ‘tidak jelas’, misalnya tutup botol atau bungkus kapsul, bisa begitu berarti, sampai tidak mau dilepas dari tangannya. Meski matanya menatap layar televisi, tangannya akan sibuk memutar-mutar atau memainkan benda itu hingga beberapa jam. Kalau benda itu jatuh, dia akan cari dengan teliti sampai ketemu.



Foto: Pixabay

Recent Posts

See All