Dear Ayah, Mari Lebih Terlibat

Updated: May 6, 2020




Dalam menjalani hari-harinya, semua anak SA memerlukan pendampingan dari orang tua, termasuk ayah. Apalagi, sebagian besar anak SA adalah anak lak-laki, yang tentu memerlukan sosok ayah di sisinya, terlebih saat menapaki masa remaja. Ayah yang bekerja di perusahaan bisa jadi hanya punya sedikit waktu untuk menemani putra-putrinya, karena sebagian besar waktunya dihabiskan di kantor. Meski tak seharian penuh mendampingi, Anda tetap bisa, kok, menjadi ayah yang luar biasa bagi anak.


Ini beberapa kiat yang bisa Anda terapkan:


1. Selami dunia autisme

Bacalah lebih banyak buku tentang autisme, baik yang ditulis oleh para ahli maupun oleh individu SA. Dengan begitu, Anda akan lebih mudah memahami kenapa anak Anda melakukan hal ini atau hal itu, mengapa responsnya begini atau begitu, mengapa ia suka atau tidak suka tentang suatu hal, apa saja yang membuatnya trauma, dan sebagainya. Selain itu, ketika membaca tulisan yang dibuat oleh anak SA, Anda juga akan dibawa ke dunia mereka, sehingga sedikit demi sedikit bisa melihat sesuatu dari cara pandang mereka.


2. Lakukan kegiatan bareng

Amati aktivitas apa saja yang membuat anak senang, kemudian lakukan kegiatan itu bersama-sama. Karena keterbatasan mereka dalam berkomunikasi, sebagian besar anak SA menyukai aktivitas yang tak melibatkan obrolan. Itulah mengapa mereka bisa tenggelam dalam kegiatan mendengarkan lagu, bermain games, dan menggambar. Meski begitu, Anda bisa terlibat dalam kegiatan itu, misalnya bareng-bareng menggambari kertas besar dan mewarnainya.


Di samping itu, banyak pula anak SA yang menyukai aktivitas fisik dan olahraga, misalnya main bola, main trampolin, dan berenang. Lakukan kegiatan itu bersama mereka. Pasti seru dan akan bikin mereka happy! Sebagai alternatif, anak juga umumnya menyukai berbagai moda transportasi. Jadi, sebagai kegiatan selingan, Anda bisa ajak anak jalan-jalan dengan kereta atau keliling kompleks dengan kendaraan pribadi.


3. Latih kemandirian anak

Sering kali ayah justru merasa tidak tega melihat anak kerepotan pakai baju sendiri, misalnya. Padahal, itu bagian dari proses melatih dia agar jadi mandiri. Biarkan dia belajar makan sendiri, meski pada awal-awal berlatih meja makan jadi berantakan. Saat dia mulai pandai makan sendiri, latih dia juga untuk membereskan makanan yang berantakan, untuk mencuci tangan dan mencuci peralatan makan.


Tahanlah diri Anda untuk tidak memanjakan anak dengan selalu membantu membereskan bermacam hal. Sama seperti mengajari naik sepeda, pada saat awal Anda perlu memegangi agar ia tidak jatuh, namun lama-kelamaan Anda harus melepaskan pegangan agar ia bisa melesat maju.


4. Penuhi janji

Dalam rangka ingin menghabiskan waktu bersama-sama, Anda bisa jadi menjanjikan acara jalan-jalan ke mal dan nonton bersama di hari Sabtu nanti. Kalau memang sudah berjanji, penuhilah janji tersebut. Sebab, anak SA bisa marah kalau janji tidak dipenuhi. Seandainya karena suatu hal janji itu tak bisa ditepati, misalnya Anda tiba-tiba ditugaskan oleh kantor untuk piket di hari tersebut, sebisa mungkin sampaikan kepada anak beberapa hari sebelumnya. Jangan lupa gantikan dengan hari lain. “Maaf, ya, Papa harus ke kantor hari Sabtu. Nanti kita ke mal hari Minggu saja, ya.” Kalau diberi tahu dengan hati-hati, dia pasti bisa mengerti, kok.


5. Ikuti perkembangannya

Bagi anak SA, melangkah ke dunia remaja merupakan masa-masa sulit dan sangat menantang. Kenapa? Sebab, di tubuh mereka terjadi perubahan hormonal dan kebutuhan akan hadirnya teman semakin tinggi. Karena dia sudah bukan anak-anak lagi, berarti Anda perlu menyesuaikan gaya berkomunikasi. Salah satunya adalah mengubah nada bicara. Misalnya, jika biasanya menggunakan gaya perintah dan larangan, kali ini bisa berupa permintaan tolong dan diskusi.



Foto: Pexels

Recent Posts

See All