Beragam Emosi Pada Anak SA

Updated: May 6, 2020




Kalau dipandang sekilas, rata-rata wajah anak SA tampak datar saja, seolah menunjukkan bahwa mereka tidak bisa merasakan emosi. Padahal, sebenarnya tidak begitu. Mereka sangat mampu merasakan emosi-emosi mendasar.


Pada masa kanak-kanak, misalnya, emosi yang sering muncul adalah marah. Kemarahan mereka biasanya diekspresikan dalam bentuk tantrum. Banyak orang tua melaporkan tentang betapa sulitnya menghadapi anak SA, terutama ketika tantrum di tempat umum. Soalnya, tidak jarang mereka menunjukkan agresivitas kepada orang lain, juga melempar dan merusak barang di sekitarnya.


Ekspresi emosi lain yang kerap muncul adalah menangis. Tak hanya ketika masih anak-anak, bahkan kadang kala sampai usia remaja kebiasaan ini masih bertahan. Anak SA bisa menangis dengan suara keras, hanya karena dilarang melakukan sesuatu, kehilangan benda favorit, atau orang lain tidak menepati janji. Ketika mereka memasuki bangku sekolah, kebiasaan menangis ini menjadi sumber ejekan teman sebaya, terutama pada anak SA laki-laki. Mereka bisa di-bully, dicap cengeng, dan sering ditertawakan. Akibatnya justru makin buruk. Kebiasaan menangis ini bisa menetap, karena mereka merasa sedih dan kesal akibat perlakuan teman-temannya.


Selain kejadian di luar diri, emosi juga dapat muncul akibat kondisi internal. Anak SA bisa tertawa begitu senang ketika sedang memikirkan sesuatu atau mengulang-ulang aksi tertentu yang mereka sukai. Karena mereka umumnya menyimpan ingatan dalam bentuk visual, bahkan lengkap dengan suara, maka berpikir dapat seperti kegiatan menonton film.


Ada emosi lain yang juga sering hadir, yaitu cemas. Dalam kesehariannya, anak SA juga kerap tampak gelisah, hampir selalu bergerak, mudah frustrasi, dan mengalami gangguan tidur. Sepanjang hidupnya, individu SA banyak mengalami hal-hal traumatis, terutama ketika mereka berada dalam proses untuk memahami dan beradaptasi. Orang tua maupun guru sering kali tidak menyadari bahwa pengalaman tertentu menimbulkan efek amat dahsyat bagi anak SA, karena bagi mayoritas anak pengalaman tersebut merupakan hal yang dianggap biasa saja.


Salah satu penyebab pengalaman traumatis adalah perubahan. Sejak kecil anak SA amat membutuhkan rutinitas dan aturan yang pasti untuk memperoleh rasa aman. Tanpa rutinitas, mereka bisa merasa amat cemas dan bingung dalam menghadapi dunia luar dan berinteraksi dengan orang lain.


Tapi, kenapa, ya, dari luar mereka tampak datar tanpa emosi? Donna Williams, seorang individu SA yang juga menerbitkan sejumlah buku, menemukan adanya hipersensitivitas emosi pada sebagian anak SA. Bila emosi yang dirasakan terlalu intens, maka ia justru akan menutup diri dan tampil dengan ekspresi wajah datar. Kondisi ini dapat terjadi akibat hal-hal yang mungkin dianggap sepele, misalnya diharuskan melakukan kontak mata, disentuh, diajak masuk ke dalam situasi yang terlalu ramai, atau perubahan rutinitas.


Di sisi lain, kejadian yang membahagiakan pun dapat mengarah pada sensasi berlebihan, jika perasaan itu terlalu intens. Misalnya, saat ia bertemu ayahnya yang baru kembali dari tugas luar negeri selama berbulan-bulan.



Foto: Pixabay

Recent Posts

See All