Benarkah Anak SA Rentan Sakit?

Updated: May 6, 2020



Gangguan kesehatan sejak masa bayi merupakan salah satu ciri yang sering dikaitkan dengan autisme. Sebagian besar orang tua di Indonesia mengakui bahwa anak SA memiliki daya tahan tubuh yang tidak terlalu bagus. Ada sejumlah penyakit yang kerap menyerang mereka, seperti kejang, radang tenggorokan, dan masalah pencernaan (diare atau sembelit berhari-hari). Begitu juga reaksi alergi terhadap makanan atau udara yang muncul dengan gejala batuk terus-menerus, gatal-gatal, dan bengkak. Tak tanggung-tanggung, alerginya bukan hanya terhadap 2 atau 3 bahan makanan, tetapi hingga belasan, bahkan terhadap beberapa jenis bahan makanan yang sepertinya tidak berkaitan dengan autisme, seperti jagung, tomat, dan bawang bombay.


Dari beberapa otobiografi tergambar pula berbagai gangguan fisik yang dialami oleh anak SA. Saat berusia antara 7 hingga 11 tahun, Temple Grandin sering terkena penyakit cacingan (pinworm) yang tidak diobati secara tuntas. Akibatnya, penyakit ini muncul lagi saat ia memasuki usia remaja. Gejalanya termasuk detak jantung yang meningkat, berkeringat, dan rasa cemas. Selain itu, Temple juga kerap diserang penyakit eksim dan radang usus yang cukup parah.


Sementara itu, Wendy Lawson yang menulis buku Understanding and Working with The Spectrum of Autism, juga memiliki kerentanan fisik serupa, yang telah tampak semasa ia bayi. Wendy lahir sebulan lebih awal dari waktu kelahiran normal dengan kondisi mata juling. Ketika kecil, ia sering diserang rematik sampai tidak bisa berjalan. Saat berusia 10 tahun, kaki kirinya membengkak hingga nyaris harus diamputasi. Orang tua Wendy meminta dokter agar lututnya tak diamputasi melainkan dioperasi saja. Permintaan itu dikabulkan. Namun, belakangan ia mengalami infeksi sekunder akibat operasi sehingga koma selama 3 minggu. Dalam masa pemulihan, ia harus tinggal di rumah sakit selama hampir 1 tahun. Pun setelah boleh pulang, ia masih harus dibantu kayu penopang untuk berjalan.


Masalah fisik yang paling parah dialami oleh Donna Williams, penulis biografi berjudul Nobody Nowhere: The Extraordinary Autobiography of An Autistic Girl. Semasa kecil ia hampir tidak pernah sehat sehingga harus minum banyak sekali antibiotik. Plus, karena tidak dirawat dengan baik oleh ibunya, Donna mengalami malnutrisi. Belum berhenti sampai di situ, kondisi kesehatan Donna semakin buruk karena sistem kekebalan tubuhnya tidak bagus.


Masalah lain yang dialaminya adalah hiperglikemia reaktif, yaitu serangan seperti pada penderita diabetes karena alergi terhadap makanan. Ketika berusia sekitar 4 tahun, ada begitu banyak makanan yang tidak dapat ia toleransi, yaitu salisilat, makanan yang mengandung susu sapi, dan yang mengandung tepung terigu. Tapi, karena ia tetap mengonsumsi makanan dari bahan-bahan tersebut dan dalam jumlah tidak sedikit, emosinya menjadi amat labil dan ia sering kali menunjukkan tingkah laku hiperaktif.


Dari banyak penelitian, masalah lain yang sering dialami anak SA adalah infeksi jamur pada usus, misalnya jamur candida. Kelebihan jamur candida dalam usus diduga terjadi akibat konsumsi antibiotik yang berlebihan saat masih kecil. Karena jamur akan tumbuh subur jika diberi ’pupuk’ berupa gula, maka anak SA disarankan menghindari gula.



Foto: Pexels

Recent Posts

See All