Belajar Soal Uang Sejak Kecil

Serupa dengan agama, uang juga sebuah konsep yang cukup tricky untuk diajarkan kepada anak SA. Meskipun, uang itu sendiri merupakan benda yang konkret. Karena itu, tak sedikit orang tua yang memilih untuk menunda mengajarkan soal uang. Padahal, akan lebih baik jika diajarkan sedini mungkin. Kalau bisa, segera setelah mereka mulai mampu memahami penjelasan sederhana dengan baik.



Kuncinya adalah menjelaskan dengan contoh nyata, yang dekat dengan kesehariannya. Dengan begitu, dia merasa bahwa uang adalah bagian dari kehidupannya sehingga ia tertarik untuk belajar.


Ada 5 langkah yang bisa Anda jajal, yaitu:


1. Perkenalkan koin dan uang kertas

Kita punya cukup banyak pecahan uang, mulai dari koin 100 rupiah hingga uang kertas senilai 100.000 rupiah. Ada pula nilai uang yang sama, yang dicetak di koin maupun di kertas, yaitu pecahan 1.000 rupiah. Perkenalkan pecahan tersebut kepada anak, lengkap dengan penanda khasnya. Misalnya, koin 500 bergambar bunga melati. Latih terus ingatannya setiap hari karena ini adalah keterampilan dasar yang akan dibawanya hingga dewasa. Jangan berlatih dengan memakai uang mainan, karena nantinya bisa membuat dia bingung.


2. Ceritakan kegunaan uang

Anda bisa menjelaskannya dengan contoh-contoh nyata yang dekat dengan kehidupannya. Misalnya, uang bisa digunakan untuk belanja mainan dan makanan kesukaan anak; bisa beli tiket supaya bisa naik bus tingkat, kereta api, dan pesawat; bisa beli karcis untuk nonton film di bioskop, masuk museum, dan arena permainan.

Selipkan juga sedikit edukasi tentang pentingnya menabung dan berhemat. Contohnya, untuk beli sepeda yang harganya cukup mahal, Anda dan anak perlu menabung dahulu selama beberapa lama hingga uangnya terkumpul.


3. Terapkan matematika sederhana

Belajar tentang uang bisa sekaligus mengasah keterampilan matematika si kecil. Ajarkan matematika sederhana menggunakan koin terlebih dahulu. Misalnya, 2 koin 100 rupiah sama dengan 1 koin 200 rupiah, 2 koin 200 rupiah ditambah 1 koin 100 rupiah sama dengan 1 koin 500 rupiah, dan seterusnya. Makin banyak variasi, makin bagus. Dia akan semakin mahir menghafal penambahan dan pengurangan dengan uang.

Jika ia sudah mahir dengan koin, tingkatkan kemampuannya dengan matematika uang kertas, yang jumlahnya lebih besar. Ketika anak sudah memahami logika penghitungan, kombinasikan koin dan uang kertas.


4. Role play

Anak SA umumnya merespons dengan baik ketika diajak untuk terlibat dalam permainan interaktif. Karena itu, tak ada salahnya Anda mencoba role play, Anda jadi pembeli dan anak sebagai penjual. Nanti, saat dia sudah mulai lancar berperan sebagai penjual, peran itu bisa ditukar. Pilih benda-benda di rumah yang akan ‘diperjual-belikan’ dan tempeli dengan harga. Misalnya, pensil 1.500, krayon 2.700, dan buku cerita 5.000. Makin banyak ‘dagangan’, permainan akan makin seru. Ajarkan anak untuk menghitung jumlah belanjaan pembeli dan uang kembalian.


5. Praktik langsung

Nah, ini saatnya jalan-jalan ke tempat belanja. Di awal sebaiknya pilih tempat yang tidak ramai, karena anak perlu waktu untuk belajar praktik, termasuk ketika membayar. Kalau langsung praktik di supermarket yang ramai, yang membayarnya pun harus antre lama, takutnya kegiatan ‘praktikum’ akan menghambat antrean dan anak jadi panik ketika diburu-buru.


Anda bisa pilih minimarket. Minta anak memilih satu atau dua barang kesukaannya, seperti makanan atau sticker, dan biarkan dia menghitung jumlah belanjaan. Beri uang dan mintalah dia untuk menyerahkan ke kasir dan menghitung kembaliannya. Kalau dia perlu waktu agak lama di kasir, bilang saja pada yang sedang antre dan pada petugas kasir bahwa anak Anda sedang belajar. Pasti mereka mengerti, kok.


Kalau sudah semakin mahir, dia bisa dilepas untuk belanja sendiri. Dalam arti, Anda tetap berdiri di belakangnya dan mengawasi.



Foto: Pexels

Recent Posts

See All