Autism: The Musical


Jujur dan apa adanya. Begitulah gambaran sebuah film dokumenter. Sangat berbeda dari film fiksi yang ditaburi berbagai bumbu, meski diangkat dari sebuah kisah kehidupan yang nyata. Kenyataan yang jujur itu pulalah yang disuguhkan oleh film dokumenter Autism: The Musical. Tak hanya menyoroti anak-anak yang mengalami gangguan SA, film ini juga merekam kehidupan keluarga mereka, keluarga yang berjuang untuk memberi kehidupan yang senormal mungkin dan senyaman mungkin bagi mereka.


Ada 5 anak usia pra-remaja hingga remaja yang benar-benar menjadi bintang dalam film ini. Masing-masing memiliki talenta, minat, dan kepribadian yang unik. Lexi, yang saat syuting sedang merasakan sensasi jatuh cinta pada remaja laki-laki, senang sekali menyanyi dan menari. Ia menunjukkan suara malaikatnya saat menyanyikan Miracle. Wyatt yang verbal tapi kerap di-bully oleh temannya punya peran sebagai aktor, penulis naskah, sekaligus musisi pada film ini. Inspirasinya datang dari berbagai cerita fiksi, termasuk Harry Potter.


Henry yang tergolong Asperger punya pengetahuan sangat luas tentang dinosaurus dan berbagai reptil. “Ini pengalaman paling keren yang pernah saya alami. Saya sangat senang,” katanya Henry, yang baru di akhir-akhir film diungkap bahwa ia adalah putra musisi Stephen Stills.


Adam sudah mahir memainkan blues harmonica ketika berusia 2 tahun. Orang tuanya saja terpana ketika melihat kemampuan Adam, yang rupanya belajar secara otodidak. Ketika film ini diproduksi, Adam telah menambatkan hatinya pada cello dan menunjukkan kebolehannya memainkan A – b – c. Ia bahkan sempat tampil di Disney Hall’s Redcat Theater bersama musisi jazz Patrice Rushen dan di The House of Blues bersama band favoritnya, Rasputina.


Neal, yang spektrum autistiknya cukup berat (non-verbal dan ketika tantrum cenderung kasar) memperlihatkan kecerdasannya ketika memegang keyboard voicebox. Ia menulis, “Autisme membuat saya kesulitan mengekspresikan perasaan dan keinginan. Saya berharap suatu hari nanti bisa belajar bicara. Saya ingin membantu agar dunia bisa memahami individu dengan keterbatasan secara lebih baik.”


Neal merupakan anak adopsi dari Elaine Hall, yang berada di belakang The Miracle Project. Proyek ini merupakan program teater khusus bagi anak-anak berkebutuhan khusus, yang memiliki tantangan antara lain dalam hal rasa percaya diri dan interaksi sosial. Gagasan proyek ini berawal dari usahanya mencari terapi yang tepat untuk membantu Neal. Ketika itu, rangkaian terapi tradisional yang dijalani Neal tak banyak membuahkan hasil. Ia lalu mencari bantuan dari orang-orang kreatif, seperti aktor, penulis, dan musisi, hingga The Miracle Project pun tercipta.


Kehidupan 5 keluarga yang berpartisipasi dalam The Miracle Project itulah yang didokumentasikan oleh Tricia Regan, yang berperan sebagai sutradara dan produser film. Dari sorotan kamera, penonton bisa melihat bagaimana para orang tua berkomunikasi dengan anak SA yang non-verbal, bagaimana mereka beradaptasi dengan dunia yang belum mengerti soal anak SA, bagaimana mereka menangani anak yang hanya tidur 2 jam sehari, dan sebagainya.


Rekaman selama 22 minggu memang tak bisa mewakili potret kehidupan mereka seutuhnya. Namun, paling tidak film ini bisa menjadi sebuah refleksi, dan pada saat yang sama Anda bisa melihat tantangan yang selama ini tak terbayang. Selama proses kreatif itu berlangsung, mulai dari menulis naskah, berlatih bersama, hingga tampil di panggung, anak-anak tersebut seringkali menunjukkan karakteristik SA. Lexi, misalnya, melompat-lompat di panggung, sementara Wyatt sibuk memainkan tangan. Tak diedit, dibiarkan apa adanya.


Autism: The Musical yang berdurasi 94 menit ini pertama kali tayang di saluran HBO pada April 2008. Namun, Anda masih bisa mendapatkan DVD-nya melalui online. Semua media memberikan kritik positif tentang film ini. Dramatis, tanpa dibuat-dibuat.



Foto: autismthemusical.com

Recent Posts

See All