Apa Itu Social Story?

Karena dinilai cukup efektif, Anda mungkin sering menerima saran agar menggunakan social story ketika perlu menerangkan hal baru kepada anak SA. Tapi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan social story?





Istilah ini diciptakan dan diperkenalkan pertama kali oleh Carol Gray pada 1991. Social story pada dasarnya adalah sebuah cerita bergambar yang pendek dan sederhana, yang secara sederhana pula menjelaskan tentang informasi, kejadian, atau kegiatan tertentu. Misalnya, tentang pandemi dan tentang pentingnya pakai masker selama pandemi. Karena ceritanya dibuat dari perspektif anak Anda, maka karakter utamanya digambarkan sebagai ‘aku’ atau ‘saya’.


Di samping menjelaskan hal-hal tak terduga, termasuk pandemi dan bencana alam seperti banjir dan gunung meletus, social story bisa dimanfaatkan untuk menjelaskan banyak hal lain, seperti:


1. Cara melakukan kegiatan rutin sehari-hari. Misalnya, cara menyikat gigi, cara mencuci tangan, dan cara berpakaian.


2. Bahaya di sekitar, misalnya bisa tertabrak mobil kalau menyeberang sembarangan, bisa terbakar kalau bermain api kompor, bisa luka dan berdarah jika tidak hati-hati menggunakan pisau.


3. Social skill, termasuk cara berkenalan dengan teman baru, cara meminta tolong kepada orang lain, cara berbicara kepada orang yang lebih tua, dan cara meminta sesuatu dengan sopan.


4. Mengubah perilaku, misalnya apa yang harus dilakukan ketika merasa marah atau sedih, cara meredakan sifat perfeksionis, cara mengurangi kekakuan terhadap rutinitas, cara beradaptasi dengan perubahan.


Social story sendiri bertujuan untuk memberi pemahaman sosial kepada anak SA. Agar tujuan itu tercapai, seperti sebuah cerita yang lengkap, social story juga harus mengandung formula 5W1H (who, why, what, when, where, dan how). Karena itu, sebelum membuat social story, Anda perlu mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi.


Contohnya, ketika menjelaskan soal belajar di rumah, Anda perlu menyebutkan siapa yang belajar di rumah dan siapa yang mengajar atau mendampingi; di ruang apa ‘aku’ akan belajar; kenapa harus belajar di rumah; apa saja yang dipelajari; hari dan jam berapa saja belajarnya, berapa lama durasi belajarnya; serta bagaimana metode belajarnya dan bagaimana perilaku yang harus ditunjukkan selama belajar. Dengan begitu, tujuan social story itu bisa tercapai, yaitu membuat anak mau belajar di rumah dan berperilaku seperti yang diharapkan.


Sesuaikan pilihan kata dengan usia anak. Secara umum, pilih kata yang simpel dan konkret, serta gunakan kalimat yang sederhana. Kalau kalimatnya terlalu panjang dan rumit, bisa-bisa anak malah jadi stres. Untuk mendukung cerita, jangan lupa cari gambar yang menarik. Tak usah stres karena merasa harus menggambar sendiri. Manfaatkan saja gambar gratis yang bisa didapat di internet. Di samping itu, sama seperti pilihan kata, sebisa mungkin carilah gambar yang sesuai. Misalnya, kalau anak Anda laki-laki berusia 10 tahun, cari gambar yang mirip-mirip dengan kondisinya saat itu.


Carol menyarankan agar cerita itu dibacakan ketika semua orang sedang santai dalam suasana yang tenang. Jika akan membacakan suatu cerita untuk pertama kali, sebaiknya Anda menggunakan pendekatan yang langsung tanpa basa-basi, seperti: “Papa sudah menulis cerita untukmu. Ceritanya tentang cara mencuci tangan. Yuk, kita baca sekarang.”

Rencanakan kapan saja Anda akan membacakan cerita atau membaca bersama anak, dan sesering apa akan mengulangnya. Pastikan Anda mengamati bagaimana anak memahami cerita itu dan apakah mampu menerapkannya dengan baik.



Foto: Freepik

Recent Posts

See All