Ajarkan Agama Pada Anak SA, Bisakah?

Updated: May 6, 2020



Bagi anak atau individu pada umumnya, agama bukanlah hal yang mudah untuk dipahami karena sifatnya yang abstrak dan begitu kompleks. Apalagi, bagi anak SA. Mereka jauh lebih mudah memahami hal-hal yang sifatnya konkret dan masuk akal. Tak mengherankan jika mengajarkan agama kepada anak SA menjadi proses yang cukup menantang.


Di sinilah pentingnya peran Anda sebagai orang tua, yang juga bisa dibantu oleh guru agama. Meski memerlukan waktu cukup lama (plus kesabaran ekstra), anak SA mampu menghafal tentang ajaran agama, berbagai doa, dan melaksanakan ritual agama. Misalnya, kalau mengajarkan suatu doa, Anda bisa melakukannya secara bertahap. Tahap pertama, dua baris dahulu diulang-ulang hingga benar-benar hafal, baru kemudian masuk tahap kedua dengan menambahkan dua baris lagi. Selanjutnya, dia diminta untuk menggabungkan baris pertama hingga keempat. Begitu seterusnya hingga dia bisa hafal keseluruhan doa. Mereka pun mampu mengingat banyak hal dari pelajaran agama, seperti sejarah perkembangan agama di dunia dan nama-nama nabi.


Di samping itu, mereka bisa belajar melakukan ritual agama, seperti shalat atau ke gereja, juga berdoa sebelum makan atau sebelum tidur. Jangan lupa, anak SA umumnya rigid dengan jadwal dan rutinitas. Seandainya Anda rajin mengajaknya shalat, dengan sendirinya dia akan rutin melaksanakan ibadah tersebut. Atau, kalau setiap hari Minggu pukul 09.00 Anda mengajaknya ke gereja, nantinya di saat yang sama dia akan minta ke gereja.


Yang jauh lebih challenging adalah mengajarkan mereka untuk menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Mereka biasanya memaknai agama lebih sebagai kegiatan intelektual, bukan kegiatan yang mengandung nilai emosional dan spiritualitas. Sehingga, agak sulit membuat anak SA ’lari’ kepada Tuhan dan berdoa ketika menemui masalah atau kesulitan, misalnya.


Lalu, apakah berarti mereka hanya bisa belajar agama sebatas hafalan dan ritual?


Tidak juga, kok. Hanya saja, Anda perlu mencarikan contoh-contoh konkret yang menggambarkan nilai agama. Yang paling sederhana adalah memberi tahu (dan memberi contoh secara nyata) tentang apa yang tidak boleh dan apa yang wajib dilakukan. Misalnya, tidak memukul teman, tidak melempari binatang dengan batu, bantu orang tua dengan membersihkan rumah, sopan saat berhadapan dengan orang lain termasuk anggota keluarga, tidak merebut makanan atau mainan orang lain, juga tentang tata krama yang umum, seperti mengucapkan terima kasih saat diberi sesuatu dan meminta maaf kalau melakukan kesalahan.


Seiring dengan pertambahan usia, pemahaman akan konsep agama dan Tuhan akan berkembang. Sebesar apa perkembangannya tergantung pada pengalaman hidup dan tingkat kemampuan masing-masing anak. Karena itu, agar pengalaman hidup putra-putri Anda semakin kaya, sering-seringlah melibatkan mereka dalam kegiatan keagamaan.



Foto: Pixabay

Recent Posts

See All