5 Tip Dampingi Anak Belajar di Rumah



Seperti anak pada umumnya, anak SA juga memerlukan waktu tambahan untuk belajar di rumah. Bedanya, mereka perlu kesabaran khusus dan pendampingan ekstra. Tak hanya itu, Anda juga perlu memahami kebutuhan anak Anda akan suasana belajar yang kondusif, memahami tentang pola perilakunya dan tentang sensitivitasnya yang khas. Ini 5 hal yang penting Anda perhatikan sebelum mendampingi anak belajar di rumah:


1. Susun jadwal tetap

Anak SA dikenal menyukai keteraturan dan rutinitas. Karena itu, akan lebih baik jika Anda membuatkan jadwal belajar harian yang cukup lengkap. Misalnya, Senin belajar subjek apa, dari jam berapa hingga jam berapa, siapa yang mendampingi, dan berapa lama waktu break. Tempelkan jadwal tersebut di kamar atau meja belajarnya. Anda pun memerlukan timer untuk membantu proses belajar agar sesuai jadwal. Jangan lupa, jelaskan juga cara kerja timer.


Sebisa mungkin, taati jadwal tersebut, karena anak SA tidak suka perubahan mendadak. Seandainya ada perubahan, misalnya ayah harus lembur padahal hari itu adalah jadwal ayah menemani belajar matematika, sampaikan kepada anak beberapa jam sebelumnya. Begitu juga dengan solusinya, apakah ditukar jadwal dengan hari berikutnya ataukah sesi belajar hari ini didampingi oleh ibu.


2. Manfaatkan alat bantu visual

Sudah terbukti bahwa anak SA lebih cepat memahami sesuatu dengan alat bantu visual. Bentuknya bisa berupa gambar, sticker, foto, dan video. Jika memungkinkan, jadwal belajar di rumah pun dilengkapi dengan gambar yang relevan. Alat bantu ini juga bisa membantu Anda yang agak kesulitan mendampingi belajar subjek tertentu. Carilah video yang sesuai dengan subjek, pelajari, dan ajak anak untuk menonton. Kalau belum mengerti, putar lagi saja videonya. Ini cara yang seru dan menyenangkan untuk belajar.


3. Ciptakan suasana belajar yang nyaman

Kebanyakan anak SA punya sensitivitas berlebih terhadap hal-hal di lingkungannya. Misalnya, jika anak Anda sangat sensitif terhadap aroma yang tajam. Bagi Anda mungkin aromanya tidak mengganggu, tapi anak bisa menjadi sangat gelisah ketika aroma itu tercium. Aroma itu bisa datang dari pengharum ruangan, pengharum pakaian, parfum, atau obat anti nyamuk. Atau, bisa saja ia sensitif terhadap cahaya yang sangat terang, sehingga Anda perlu memasang lampu yang tepat, tidak terlalu terang tapi membuatnya jelas membaca atau melihat sesuatu.


Yang perlu dibangun bukan hanya lingkungan belajar secara fisik, tapi juga suasana secara mental. Misalnya, memberi reward berupa pujian akan lebih efektif daripada hukuman. Anak akan terdorong untuk lebih fokus belajar.


4. Buat instruksi sederhana

Pilih kata yang sederhana dan kalimat yang pendek-pendek saja ketika memberi instruksi. Jika instruksi terlalu panjang, anak akan bingung. Apalagi, kalau instruksinya disampaikan dalam bentuk verbal. Selain itu, batasi instruksi agar tidak lebih dari dua hal. Misalnya, kerjakan tugas dari buku A halaman X dan selesaikan dalam waktu 20 menit. Jika perlu, tuangkan instruksi tersebut dalam bentuk tulisan agar lebih mudah dipahami.


5. Beri waktu untuk berpikir

Bahkan untuk memahami instruksi yang sederhana, anak SA cenderung memerlukan waktu lebih banyak. Ada kemungkinan hal itu terjadi karena fokusnya mudah terganggu. Saat sudah memberi instruksi untuk mengerjakan tugas tertentu, tunggulah sampai anak merespons. Kuncinya adalah kesabaran tingkat tinggi. Ketika anak sedang berpikir, hindari mengulangi instruksi dengan kalimat dan pilihan kata yang berbeda. Sebab, anak akan mengulangi proses berpikir kembali ke titik awal. Jangan pula mendesaknya untuk segera menjawab, karena justru akan membuyarkan konsentrasi.



Foto: Pexels

Recent Posts

See All