5 Resep Happy Pasangan dengan Anak SA



Semua orang tua yang memiliki anak SA pasti sempat mengalami perbedaan pendapat, ketika memutuskan untuk mencari solusi terbaik bagi anaknya. Saat diagnosis SA pertama kali disampaikan, komunikasi pasangan kerap kali jadi macet, atau bahkan mogok. Rata-rata sebab utamanya adalah stres yang luar biasa besar, karena awalnya sulit menerima kenyataan ditambah kebingungan dan keresahan harus berbuat apa.


Tak mengherankan jika kemudian banyak perkawinan yang retak. Perlu diingat, kehadiran anak SA bukan penyebab utama konflik. Buktinya, meski tidak memiliki anak yang mengalami gangguan SA, perkawinan pun bisa berujung pada perceraian. Untuk menjaga pernikahan tetap harmonis, ada 5 hal yang perlu Anda perhatikan, yaitu:


1. Ekspektasi

Anak dengan gangguan SA menyerap begitu banyak perhatian dan waktu Anda. Di awal pernikahan Anda mungkin ingin bisa meluangkan banyak waktu untuk pasangan. Nyatanya, keinginan itu susah sekali terwujud. Yang satu sibuk antar jemput terapi, yang satu kerja super keras karena terapi dan sekolah membutuhkan biaya yang tinggi. Karena itu, Anda berdua perlu menurunkan ekspektasi terhadap diri sendiri maupun terhadap pasangan.


Misalnya, istri sebaiknya tidak mengharapkan suami menapaki karier setinggi-tingginya, sekaligus membantu tugas-tugas domestik dan membimbing anak belajar. Sebaliknya, suami juga tidak bisa berharap istri selalu memasak hidangan rumah dan membersihkan rumah tanpa bantuan asisten, sekaligus selalu menemani anak ke sekolah dan ke tempat terapi.


2. Komunikasi

Ini mudah diucapkan tapi tak semudah itu diterapkan. Salah pilihan kata, pasangan bisa meledak lalu mendiamkan Anda berjam-jam. Masalah yang harusnya tak terlalu rumit malah jadi kusut. Kenapa begitu? Soalnya, saat dalam kondisi stres berat, kadar kesabaran pasangan jadi tipis. Jika memang sering bertengkar karena salah paham, Anda berdua perlu mengubah cara berkomunikasi. Tanpa melontarkan banyak komentar, dengarkan pasangan dengan sabar.


Komunikasi non-verbal juga bisa Anda terapkan. Misalnya, suami menemani istri belanja berbagai kebutuhan di supermarket, atau sesekali ikut membantu anak belajar mandiri. Sebaliknya, istri bisa menemani suami menonton program olahraga di televisi.


3. Konflik

Yang sering terjadi adalah perbedaan pendapat antara Anda dan pasangan tentang cara menangani anak, plus komentar keluarga besar dan kelelahan menangani perilaku anak. Hal ini bisa berujung pada konflik. Saat terjadi konflik, fokus Anda berdua sebaiknya tertuju pada mencari solusi, bukan pada emosi dan keinginan pribadi. Agar hati dan kepala lebih dingin saat berdiskusi, carilah waktu yang pas. Contohnya, tidak sedang stres atau banyak masalah di kantor. Ciptakan juga suasana diskusi yang santai, misalnya sesudah makan malam dan anak sudah tidur.


Sebagai solusi, Anda bisa berkonsultasi dengan profesional, hire tim terapis, dan membekali diri dengan banyak ilmu tentang autisme dari berbagai sumber tepercaya.


4. Keterlibatan

Setiap anak SA memerlukan kedua orang tuanya untuk mendampingi. Sering kali pengasuhan anak SA lebih banyak ditanggung oleh istri, terutama yang punya banyak waktu karena tidak bekerja kantoran. Agar tanggung jawab pengasuhan bisa menjadi lebih berimbang, suami juga perlu terlibat lebih dalam. Porsi keterlibatannya mungkin tak bisa sebanyak istri karena hari-harinya diisi dengan bekerja di kantor. Meski begitu, waktu yang hanya sebentar itu bisa diusahakan agar berkualitas, misalnya dengan melakukan kegiatan bersama seperti bermain lego dan menonton film kesenangan anak.


5. Happy hour

Saking sibuknya mencari uang dan mengurus anak, sering kali pasangan jadi lupa mencuri waktu untuk senang-senang. Padahal, pikiran yang bebas stres berujung pada kualitas pengasuhan yang baik. Kosongkan hari-hari Anda berdua yang penuh rutinitas dan luangkan waktu berdua saja untuk ‘pacaran’ lagi.


Kalau punya banyak waktu, liburan saat weekend bisa menjadi opsi. Anak bisa dititipkan ke anggota keluarga besar yang sudah paham cara mengasuhnya. Atau, jika hanya punya beberapa jam saja, recharge energi dan pikiran Anda dengan kegiatan yang menyenangkan, misalnya nonton film atau konser musik, olahraga bareng, makan dan hang out di kafe, atau cuci mata di mal. Saat pikiran jernih, Anda berdua akan mampu mengelola stres dan mencari solusi masalah dengan baik.



Foto: Pixabay

Recent Posts

See All