5 Hambatan Dalam Interaksi Sosial

Updated: May 6, 2020




Rata-rata anak SA memiliki masalah komunikasi. Meski sudah menjalani terapi wicara dan bisa bicara, mereka sering kali kurang tertarik untuk bicara dan kontak dengan orang-orang di sekitarnya. Kalaupun mau diajak ngobrol, kalimatnya hanya pendek-pendek saja, lalu kembali pada kesibukannya sendiri. Sehingga, terkadang anak perlu sedikit ‘dipaksa’ untuk bicara dan mengungkapkan keinginannya dengan bahasa sangat sederhana. 


Sesama anak sebaya yang baru pertama kali bertemu saat mamanya arisan, misalnya, biasanya akan langsung akrab tanpa perlu diminta. Tapi, anak SA tidak demikian. Mereka, sih, akan cuek saja, dan sibuk nguplek dengan kesenangannya. Apa sebenarnya hambatan yang membuat mereka sepertinya males banget menjalin interaksi sosial? Ada 5 hal yang perlu Anda ketahui, yaitu: 


1. Eye contact yang absen

Saat mengobrol, kontak mata merupakan hal yang wajar dan diharapkan. Malah, kalau bicara tanpa memandang mata orang yang diajak bicara, kita disebut tidak sopan. Tapi, akan sangat sulit bagi Anda meminta anak SA untuk melalukan kontak mata. Kalaupun ia mau dan mampu, paling banter hanya beberapa detik saja.


Kenapa? Karena, banyak anak SA yang mono-processing. Maksudnya, dia tidak bisa memproses informasi secara bersamaan, Jadi, bila melakukan kontak mata, makin sulit bagi mereka untuk berpikir dan merespons secara tepat. Alasan lain, mereka tidak suka melihat bola mata yang sering kali bergerak-gerak karena merusak konsentrasi. Ada juga yang merasa kontak mata itu ‘menyakitkan’ secara psikologis.


2. Minat yang berbeda

Tidak mengherankan jika anak SA akan membicarakan satu hal ituuu… saja yang menjadi kesenangannya. Misalnya, kalau dia suka sekali dengan dinosaurus, yang dia obrolkan, ceritakan, dan tanyakan, ya, hanya dinosaurus dan teman-temannya saja. Mereka, mah, tidak peduli bahwa temannya tidak ada yang senang pada dinosaurus, atau akan tak peduli kalau temannya cerita soal film menarik, games yang sedang hits atau fesyen, misalnya. Teman-temannya jadi enggan berteman dengannya, karena salah satunya ia dianggap membosankan. 


3. Rigid dengan jadwal

Ini memang menjadi salah satu ciri anak SA. Banyak orang tua yang menyusun jadwal harian anak. Sebenarnya, tujuannya agar tidak ada jadwal kegiatan yang tumpang tindih. Begitu juga jadwal mata pelajaran di sekolah, terutama di kelas usia kecil. Kalau jadwalnya ditukar, anak SA bisa marah meledak-ledak sampai membuat temannya jengkel. Padahal, jadwalnya cuma ditukar, bukan dihapus. Misalnya, karena hujan, pelajaran berenang ditukar dulu dengan menyanyi. Inilah yang membuat anak SA terkesan menyebalkan dan dijauhi teman. 


4. Sulit berempati

Bicara saja kesulitan, apalagi menunjukkan empati. Kalau ada temannya jatuh dan menangis, anak SA tidak akan ikut prihatin atau buru-buru menolong atau lapor gurunya. Mereka bisa sangat cuek, atau justru menunjukkan perasaan yang bertolak belakang. Misalnya, tertawa berkepanjangan sambil melompat-lompat. Sudah pasti teman di sekitarnya akan sebal. Padahal, dia tidak bermaksud menertawakan musibah jatuhnya teman. Sering kali mereka ingin membantu tetapi tidak tahu caranya, atau pada saat itu ia sedang terserap dalam pikirannya sendiri sehingga responsnya tidak sesuai harapan orang di sekitarnya.


5. Tak bisa membaca bahasa non verbal

Jika ada teman yang tidak suka padanya, seorang anak SA tidak akan langsung memahami. Meskipun, bahasa tubuh dan eskpresi temannya sangat jelas. Contohnya, menjauh saat didekati atau mencibir saat anak SA itu berbicara. Sisi baiknya, anak SA tidak akan sakit hati atau tersinggung. Ia mungkin akan santai saja dan terus bercerita. Tapi, teman-teman di sekitarnya jadi malas berdekatan dengannya. Atau, ketika di rumah, kalaupun sang kakak marah pada si kecil karena mainannya direbut, misalnya, belum tentu ekspresi marah itu ia pahami.



Foto: Pixabay



Recent Posts

See All