5 Fakta Tentang Asperger

Updated: May 6, 2020

Sebagian besar anak yang didiagnosis SA menunjukkan gangguan lain, seperti ADHD (gangguan fokus) dan hiperaktif. Meskipun, anak yang didiagnosis ADHD atau hiperaktif tidak selalu menunjukkan ciri autisme yang lain. Salah satu gangguan yang juga kerap dikaitkan dengan SA adalah sindrom asperger, karena sering kali menunjukkan perilaku yang mirip dengan anak SA.



Tapi, apa sebenarnya yang disebut sindrom asperger? Ini 5 fakta yang perlu Anda ketahui:


1. Bagian dari spektrum autistik

Karena sama-sama merupakan brain disorder, sering kali asperger dikaitkan dengan autistik. Berpuluh tahun lalu, asperger dikategorikan sebagai high functioning autistic karena karakteristiknya serupa dengan autistik. Sehingga, asperger kemudian dianggap sebagai autistik dalam spektrum yang ringan. Anak dengan sindrom asperger umumnya bisa mengikuti pendidikan di sekolah umum dan bisa mengikuti pelajaran, karena mereka cerdas secara akademik.


2. Mampu berbicara dengan lancar

Rata-rata anak SA mengalami keterlambatan bicara dan sebagian besar mengalami kesulitan dalam berkomunikasi karena tidak bisa berbicara dengan lancar. Sementara itu, anak dengan sindrom asperger tidak mengalami masalah dalam hal komunikasi, meski gaya bahasa yang mereka gunakan umumnya formal dan baku. Itulah mengapa sindrom asperger tidak terdeteksi sejak dini. Ketika sudah besar dan masuk ke lingkungan pergaulan, barulah ciri asperger akan terlihat lebih jelas.


3. Sulit berteman

Meski mampu berkomunikasi dengan baik, anak dengan asperger umumnya tidak bisa melakukan kontak mata dalam waktu yang lama, ekspresi wajahnya cenderung datar, sangat taat pada aturan, dan tidak spontan. Di samping itu, mereka juga sangat apa adanya, bisa terang-terangan mengungkapkan apa yang dilihat atau dipikirkan. Misalnya, kalau kulit temannya ada yang gelap, dia tak ragu berkomentar. Akibatnya, teman-temannya bisa merasa sakit hati dan malas berteman dengannya.


4. Alami masalah koordinasi gerakan

Akan cukup menantang bagi anak asperger untuk mengordinasikan anggota badannya secara bersamaan. Tak heran jika mereka umumnya kurang berhasil di beberapa bidang yang menuntut koordinasi yang baik, termasuk seni tari, seni musik, dan olahraga. Misalnya, mereka sulit mengikuti gerakan tari Bali yang dinamis, yang paling memadukan gerakan antara tangan, kaki, pinggul, pundak, kepala, dan mata sekaligus. Apalagi, kalau aktivitasnya menuntut kerja sama kelompok dengan aturan yang cukup rumit, seperti bermain sepak bola atau basket.


5. Bisa raih prestasi

Karena nyaris tak memiliki hambatan dalam hal kecerdasan intelektual, anak dengan sindrom asperger mampu berprestasi. Buktinya sudah banyak. Tak sedikit pesohor dunia yang didiagnosis asperger dan mereka mampu membuktikan kemampuannya. Sebut saja antara lain Satoshi Sajiri yang merancang permainan Pokemon, pelukis Michelangelo yang melegenda, Bill Gates yang mendirikan perusahaan Microsoft, Newton yang merupakan ilmuwan hebat, dan Charles Richter yang menciptakan alat pengukur kekuatan gempa.



Foto: Pexels

Recent Posts

See All