4 Faktor Yang Diduga Picu Autisme

Updated: May 6, 2020

Sejauh ini sudah banyak institusi yang meneliti apa sebenarnya penyebab pasti dari kondisi autisme. Logikanya, kalau penyebabnya bisa diketahui, pencegahannya pun bisa diusahakan. Masalahnya, meski sudah puluhan tahun diteliti, penyebabnya tidak juga ketahuan. Berita baiknya, dari riset-riset tersebut terlihat bahwa meningkatnya jumlah orang yang didiagnosis autisme berkaitan erat dengan kondisi lingkungan. Namun, itu bukanlah satu-satunya faktor yang diduga memicu autisme.



Ini 4 faktor yang perlu Anda ketahui:


1. Genetik

Sejumlah penelitian melakukan riset terhadap anak kembar dan saudara kandung. Temuannya, jika salah satu anak memperlihatkan karakteristik SA, kembarannya juga berisiko memiliki kondisi serupa. Begitu juga saudara kandungnya. Misalnya, keterlambatan bicara atau masalah perilaku. Hal ini menunjukkan bahwa faktor genetik memainkan peran yang sangat besar. Itulah kenapa banyak orang tua yang memilih untuk tidak lagi mempunyai anak, setelah anaknya didiagnosis SA.


Namun, penelitian terus berkembang menjadi jauh lebih mutakhir. Nyatanya, faktor genetik tidak selalu berarti bahwa autisme itu diturunkan. Pada tubuh anak SA yang tidak punya riwayat autisme, ditemukan terjadinya mutasi DNA. Ada pula penelitian lebih canggih yang menemukan bahwa ada lebih dari 102 gen yang terkait dengan gangguan SA.


2. Lingkungan

Perhatikan, deh, lingkungan sekitar kita. Kian lama polusinya kian berat. Penggunaan zat kimia untuk produk yang digunakan sehari-hari juga semakin banyak, misalnya pestisida. Tak mengherankan jika racun dari zat kimia dan polusi itu masuk ke tubuh manusia. Peneliti mendapati bahwa di dalam tubuh anak SA terdapat kadar logam berat yang lebih tinggi, seperti merkuri dan timah, daripada anak bukan SA.


Selain itu, Children’s Environmental Health Center (CEHC) menemukan 10 bahan kimia yang ditemukan dalam produk rumah tangga yang dicurigai berkontribusi pada kondisi autisme. Bahan kimia tersebut, antara lain timbal, metil merkuri, dan polychlorinated-biphenyls,

Hanya saja, belum diketahui kenapa pada darah anak SA terdapat banyak logam berat. Bisa jadi terpapar ketika baru lahir, bisa juga dari ibu yang terpapar. Faktor polusi lingkungan yang terus meningkat di dunia, antara lain berupa limbah sampah dan polusi dari kendaraan, juga membawa pengaruh buruk.


3. Vaksin MMR

Hingga kini vaksin MMR (measles, mumps, rubella) masih menjadi kontroversi, karena diyakini bisa memicu autisme. Meskipun, riset terkini di beberapa negara membuktikan bahwa vaksin tersebut tidak berkaitan dengan autisme. Lalu, kenapa MMR bisa menjadi tertuduh? Karena, banyak orang tua yang menyebutkan bahwa anaknya mengalami kemunduran perkembangan usai mendapat vaksin itu.


Saat diteliti, vaksin MMR rupanya mengandung zat pengawet bernama thimerosal yang diduga memicu autisme. Kendati kemudian ada vaksin MMR yang tidak menggunakan thimerosal, tetap saja urusan vaksin ini menjadi perdebatan. Walaupun tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat, orang tua masih percaya bahwa MMR dapat memicu kondisi autisme.

4. Masalah selama kehamilan

Kesehatan ibu saat hamil, terutama pada masa 8 minggu pertama, sangat menentukan kesehatan bayi. Jika semasa kehamilan seorang ibu masih mengonsumsi narkoba, mengalami infeksi, atau terjangkit virus rubella, risiko SA pada anaknya akan semakin tinggi. Selain itu, kalau bayi sempat kekurangan oksigen ketika sang ibu menjalani proses persalinan yang sulit, ia juga berisiko menjadi anak SA. Namun, sebuah penelitian skala besar yang menyelidiki apakah ibu hamil yang minum alkohol saat mengandung cenderung memiliki anak dengan autisme, tidak menemukan korelasi antara alkohol dan autisme.


Dari berbagai penelitian bisa disimpulkan bahwa yang sudah terbukti berperan besar sebagai penyebab gangguan SA adalah kombinasi antara faktor genetik dan polusi dari lingkungan.



Foto: Pexels

Recent Posts

See All